Indeks ini mencoba menguat dua hari beruntun.
Potensi arah kebijakan bank sentral Federal Reserve jadi sentimen positif bagi mata uang Negeri Adidaya. Pasar kini kurang yakin bahwa Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell dan sejawat bakal menurunkan suku bunga acuan pada rapat bulan depan.
Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75% dalam rapat Desember adalah 45,8%. Adapun kemungkinan suku bunga acuan bertahan di 3,75-4% lebih tinggi, yaitu 54,2%.
“The Fed sepertinya harus membuat keputusan sulit. Situasinya benar-benar sedang menantang bagi Powell dan kolega untuk membuat kesepakatan,” tegas William English, Profesor di Yale School of Management, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Sejumlah pejabat teras The Fed pun melontarkan komentar bernada hawkish. Gubernur The Fed Kansas City Jeff Schmid menyebut penurunan suku bunga tidak akan banyak membantu perekonomian AS.
“Saya tidak berpikir bahwa penurunan suku bunga lebih lanjut akan membantu ‘retakan’ di pasar tenaga kerja. Penurunan suku bunga justru akan menimbulkan efek jangka panjang terhadap komitmen kami mewujudkan inflasi sesuai target 2%,” tegas Schmid, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Risiko inflasi juga dikemukakan oleh Susan Collins, Gubernur The Fed Boston. Senada dengan Schmid, Collins juga berpandangan bahwa pemangkasan suku bunga berisiko membuat laju inflasi terakselerasi seiring ekspansi ekonomi.
“Dukungan kebijakan moneter demi memperbaiki aktivitas ekonomi bisa mempersulit inflasi untuk mencapai target,” ujarnya, juga dinukil dari Bloomberg News.
Saat suku bunga sepertinya belum turun, maka berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) akan atraktif. Ini membuat dolar AS berjaya, dan kemudian menekan mata uang Asia, Rupiah tidak terkecuali.
(aji)




























