Padahal sebelumnya, harga minyak sempat menguat setelah muncul laporan dari Wall Street Journal dan Miami Herald yang mengutip pejabat AS dan sumber terkait, bahwa Washington berencana melancarkan serangan militer terhadap sejumlah target di Venezuela — termasuk fasilitas militer yang digunakan untuk penyelundupan narkoba.
Namun, Trump kemudian membantah laporan tersebut dan justru “membantah pernyataannya sendiri di masa lalu”, ketika ia pernah mengatakan tengah mempersiapkan serangan darat setelah beberapa kali melakukan serangan laut. Bantahan itu membuat harga minyak berjangka kembali melemah.
Para pelaku pasar sebelumnya telah memperhitungkan kemungkinan terganggunya pasokan minyak dari Caracas, anggota OPEC, setelah Trump mengerahkan kapal perang ke kawasan Karibia tahun ini. Trump menuding Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai pemimpin tidak sah yang “memfasilitasi perdagangan narkoba.”
Namun, pelaku pasar menilai kemungkinan kecil operasi militer akan menargetkan aset energi. Ketegangan tersebut juga terjadi di tengah kekhawatiran akan melimpahnya pasokan minyak mentah global.
Gregory Bres, analis politik Eurasia Group— sebuah perusahaan konsultasi risiko politik dari New York—mengatakan, “Jika tujuan AS adalah pergantian rezim, maka ada kepentingan besar untuk menjaga infrastruktur energi tetap utuh, karena hal itu akan menjadi sumber pendanaan bagi pemerintahan yang menggantikan Maduro.”
Sementara itu, para pelaku pasar juga terus memantau dampak potensial dari sanksi AS terhadap dua produsen minyak terbesar Rusia, yang menurut pimpinan perusahaan penyulingan terbesar di Eropa masih kurang diperhitungkan oleh pasar.
Di India, lebih dari separuh penyuling yang selama ini mengimpor minyak Rusia dilaporkan menghentikan pembelian untuk beberapa bulan ke depan.
Hingga saat ini, harga WTI telah turun lebih dari 10%, seiring peningkatan pasokan baik dari dalam maupun luar OPEC+ yang melebihi pertumbuhan permintaan.
Pertemuan OPEC+ pada Minggu (2/11/2025) esok dianggap krusial, karena kelompok tersebut sudah lebih dulu mengembalikan 2,2 juta barel per hari pasokan yang sebelumnya dipangkas, setahun lebih cepat dari jadwal. Kini, OPEC+ mengambil langkah yang lebih hati-hati untuk penambahan berikutnya, sambil melihat bagaimana pasar bereaksi.
Di tengah pasar minyak mentah yang dibayangi kelebihan pasokan, pasar produk olahan justru menguat, terutama setelah sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil, dua produsen besar asal Rusia.
Harga diesel kini berada pada selisih tertinggi terhadap minyak mentah sejak awal 2024, yang memperkuat margin penyulingan dan pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan terhadap minyak mentah.
(bbn)





























