Melemahnya IHSG merupakan efek secara langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (31/10/2025).
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 6,72 poin
- Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 6,63 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 5,36 poin
- Astra International (ASII) mengurangi 5,32 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 4,37 poin
- United Tractors (UNTR) mengurangi 3,29 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 2,16 poin
- Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) mengurangi 2,08 poin
- Merdeka Battery Materials (MBMA) mengurangi 2,05 poin
- Alamtri Resources Indonesia (ADRO) mengurangi 1,87 poin
Adapun saham–saham perindustrian lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) drop 11,7%, saham PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) terpeleset 10,4%, dan saham PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN) juga melemah dengan kehilangan 9,24%.
Disusul oleh pelemahan saham properti, saham PT Pakuan Tbk (UANG) yang turun 14,6%, saham PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) melemah 9,77%, dan saham PT Saptausaha Gemilangindah Tbk (SAGE) yang mencetak pelemahan 9,68%.
Mengutip riset Panin Sekuritas, investor merespon negatif pernyataan The Fed yang menyatakan pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember 2025 belum pasti. IHSG dibuka menguat namun memasuki zona merah hingga penutupan.
“Investor saat ini masih wait and see mencermati arah kebijakan moneter The Fed yang tidak seagresif ekspektasi awal, serta nilai tukar rupiah yang saat ini relatif melemah,” papar Panin, Jumat.
Adapun, setelah bergerak fluktuatif di antara teritori positif dan negatif, sesuai dengan prediksi di mana indeks cenderung bergerak sideways.
Faktor penutupan perdagangan di akhir bulan dan rebalancing indeks LQ45 juga mempengaruhi pergerakan IHSG. Pada pekan ini IHSG ditutup melemah 1,3%, sebut Phintraco Sekuritas.
(fad)




























