Logo Bloomberg Technoz

Bagi Saeed, langkah Indonesia bukan hanya soal kesejahteraan sosial, melainkan pembangunan ekonomi strategis yang berorientasi pada keberlanjutan. “Pendekatan Indonesia memadukan logika inklusi sosial dengan disiplin efisiensi ekonomi. Ini langkah yang berani dan visioner,” ujarnya.

“Ini bukan ekonomi kesejahteraan—ini ekonomi strategis,” tambahnya.
“Indonesia sedang membangun infrastruktur manusia, bentuk modal nasional yang paling tahan lama.”

Program ini menandai perubahan besar dalam paradigma kebijakan publik. Dengan memberikan kompensasi setara UMK dan menargetkan 20.000 peserta magang dalam tahap awal, pemerintah tidak hanya berupaya menekan pengangguran siklikal, tetapi juga membangun fondasi pembelajaran berbasis pengalaman.

Kebijakan ini disebut meniru keberhasilan sistem magang di Korea Selatan dan Jerman, meski diterapkan dalam kondisi global yang jauh lebih kompleks—mulai dari inflasi tinggi, gangguan rantai pasok, hingga rivalitas geopolitik.

Tiga Strategi untuk Dampak Ekonomi Jangka Panjang

Untuk memaksimalkan efek berganda dari program ini, Shan Saeed merekomendasikan tiga langkah penting.

Pertama, Integrasi Digital — mengembangkan platform SIAP Kerja menjadi ekosistem pencocokan kerja berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menyelaraskan kebutuhan industri dengan keterampilan lulusan secara real time.

Kedua, Indikator Kinerja — menggunakan metrik keberlanjutan seperti tingkat konversi magang menjadi karyawan tetap dan peningkatan produktivitas untuk memastikan evaluasi yang transparan dan berbasis data.

Ketiga, Kemitraan Global — membangun kolaborasi dengan perusahaan multinasional dan startup teknologi agar peserta magang mendapat pengalaman lokal sekaligus wawasan global, dua perspektif yang sangat penting di era pasca-globalisasi.

Pendekatan ini, kata Saeed, akan memberikan manfaat jangka panjang yang solid bagi perekonomian Indonesia. Ia menambahkan, “Era pasca-globalisasi akan memberi penghargaan kepada negara-negara yang mempercepat siklus learning-to-earning—dari belajar ke berpenghasilan.”

Sinyal Kuat bagi Investor dan Dunia

Lebih dari sekadar penciptaan lapangan kerja, program Magang Bergaji ini juga memiliki nilai simbolik yang kuat di mata investor global. Mereka kini memantau indikator seperti partisipasi pemuda, produktivitas, dan kesiapan digital sebagai tolok ukur daya saing ekonomi.

Implementasi yang efektif dari kebijakan ini diyakini dapat mengubah narasi investasi Indonesia dari pertumbuhan berbasis komoditas menjadi ketahanan berbasis talenta. Dengan kata lain, pemerintah sedang mengalihkan fokus dari kekayaan sumber daya alam ke kekuatan sumber daya manusia.

Menuju Ekonomi Progresif dan Berbasis Talenta

Saeed menutup analisanya dengan menegaskan bahwa kebijakan ini membawa pesan besar bagi dunia. “Program Magang Bergaji Indonesia bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan sinyal ekonomi bagi dunia bahwa bangsa ini memahami tata bahasa baru dari daya saing global.”

“Indonesia kini sedang menapaki jalur menuju 10–20 tahun ke depan sebagai salah satu ekonomi kuat dan progresif di kelas dunia,” ujarnya.

Dengan pendekatan berbasis digital, data, dan kemitraan global, kebijakan Magang Bergaji menjadi simbol bahwa Indonesia tengah membangun fondasi ekonomi baru—di mana manusia menjadi pusat kekuatan ekonomi masa depan.

No more pages