Logo Bloomberg Technoz

Lonjakan harga emas terakhir kali ini adalah karena aksi spekulasi para investor di pasar dunia yang ramai menyerbu ETF emas, jelang pidato Gubernur Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS), Jerome Powell hari Selasa ini waktu setempat, tentang prospek ekonomi ke depan. Itu akan menjadi pidato Powell pertama setelah pernyataan hawkish pada pekan lalu, yang sempat menggerus harga emas. 

Bila ada sinyal dovish yang memperkuat ekspektasi akan penurunan suku bunga acuan ke depan, lonjakan harga emas akan semakin tinggi. Sebaliknya, bila Powell mempertegas lagi nada yang lebih hawkish, harga emas mungkin akan tergelincir.

Namun, kebanyakan pemain besar di pasar sejauh ini masih bullish terhadap komoditas berharga ini. Yang terbaru, bank investasi global asal Jerman, Deutsche Bank AG, memprediksi harga emas akan mencapai rata-rata US$4.000 per troy ons pada tahun 2026.

Penyebabnya, pemangkasan suku bunga Federal Reserve dan pembelian oleh bank sentral China memastikan bahwa emas batangan akan memperpanjang reli harga rekor.

Jelang siang ini, harga emas di pasar dunia diperdagangkan di kisaran US$ 3.742,52 per troy ons, terkikis 0,19% setelah kemarin ditutup naik 1,67%.

Saatnya Jual?

Dengan lonjakan harga emas dunia kemarin ditambah makin mahalnya harga dolar AS, saat ini ada di kisaran Rp16.614, harga emas di pasar Indonesia tak terbendung memecah rekor baru.

Harga buyback yang pertama kali pecah di level di atas Rp2 juta per gram itu, mungkin mendorong sebagian investor emas ingin segera mencairkan emas simpanannya. 

Sebagai gambaran, bila Anda membeli emas pada akhir tahun lalu ketika harganya masih di level Rp1.515.000 per gram, maka bila menjualnya di harga buyback hari ini, keuntungan bersih yang bisa Anda nikmati mencapai 33%. Secara nominal, untung bersih yang bisa dibungkus nyaris mencapai Rp500.000 per gram. 

Tingkat keuntungan bisa lebih besar lagi bagi investor yang membeli emas jauh sebelum reli harga gila-gilaan belakangan. Bila membeli emas setahun lalu, misalnya, saat harganya Rp1.455.000 per gram, net profit yang dikantongi mencapai 38,2%.

Sedangkan bila membeli emas Antam lima tahun lalu, ketika harganya masih dibanderol Rp1.007.000 per gram, untung bersih bisa Anda nikmati nyaris 100%.

Menjual emas simpanan ketika harganya tengah tinggi kemungkinan menjadi langkah tepat terutama bagi investor yang membutuhkan dana penjualan tersebut untuk menutup kebutuhan dalam waktu dekat. Misalnya, kebutuhan membayar uang masuk sekolah anak, menutup biaya renovasi rumah, dan sebagainya. 

Atau, semisal Anda memiliki rencana untuk memutar lagi dana hasil penjualan emas itu ke instrumen yang berpotensi memberi cuan lebih tinggi daripada emas ke depan. Bila memang ada.

Calon pembeli Logam Mulia menunggu antrean di Butik Emas Antam, Pulogadung, Jakarta, Selasa (15/4/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Yang pasti, selama sembilan bulan tahun ini, tingkat keuntungan harga emas masih termasuk salah satu yang tertinggi bila dibandingkan dengan beberapa aset lain.

Kenaikan harga saham, misalnya, bila IHSG menjadi benchmark kinerja, tercatat membukukan return 17,81% year-to-date. Sementara tingkat return Surat Utang Negara, tercatat sebesar 9,57% pada periode yang sama. Investasi valas dalam bentuk dolar AS juga cuma memberikan cuan 3,17% sejauh ini. Adapun deposito perbankan, untuk tingkat bunga spesial yang tidak mendapatkan jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), berkisar 9% di beberapa bank digital.

Jadi, bila merujuk pada torehan kinerja aset lain, return emas sejauh ini masih yang paling tinggi. Hanya, perlu diingat, untuk individual saham, banyak di antaranya yang berhasil memberikan keuntungan ratusan persen dalam waktu singkat. 

Misalnya, saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (CUAN), yang mencetak kenaikan 443,5% year-to-date. Atau, saham ANTM yang juga mencetak kenaikan harga hingga 137,4% sepanjang tahun ini. 

Emas Sebagai 'Pelindung Nilai'

Harga emas hampir selalu naik ketika ketidakpastian di konteks perekonomian global membesar. Emas diburu sebagai aset aman alias safe haven, semacam tempat parkir dana sementara, karena pergerakannya relatif lebih stabil dalam jangka panjang.

Namun, karena emas tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sebagaimana obligasi, misalnya, atau saham yang memberikan dividen. Emas akan cenderung ditinggalkan begitu prospek ekonomi kembali cerah. 

Dana-dana investor yang semula ditempatkan di emas akan berangsur keluar kembali menyerbu aset-aset agresif yang lebih berisiko dengan peluang return lebih besar pula, seperti saham atau paper investment lain.

Lonjakan harga emas saat ini sulit dilepaskan dari 'keruntuhan' pamor dolar AS dan surat utang yang dikeluarkan Pemerintah AS yakni US Treasury. Indeks dolar AS anjlok 11% tahun ini. Sedangkan yield UST tenor 10Y sudah di level 4,147%.

Lonjakan uang beredar yang tinggi di negeri itu memicu risiko inflasi lebih besar ke depan, membuat para pengelola dana global makin banyak mengalihkan likuiditas ke emas.

Harga emas dunia terus rekor, sebaliknya pamor dolar AS tersungkur (Bloomberg)

Dalam wawancara dengan CNBC, Jeffrey Gundlanch yang dikenal sebagai si raja obligasi Wall Street, gamblang mengatakan 25% portofolio mereka kini berisi emas, seperti dikutip dari Bloomberg News

Berdasarkan pelacakan data hingga 50 tahun ke belakang, seperti ditunjukkan oleh data Bloomberg, harga emas di pasar dunia pernah beberapa kali mengalami kejatuhan besar. Sementara harga emas lokal seperti Antam, selain mengikut tren harga global, juga dipengaruhi oleh kurs dolar AS terhadap rupiah.

Emas meski disebut sebagai aset safe haven, masih memiliki risiko turun harga. Pada beberapa periode, penurunannya bahkan begitu curam hingga butuh waktu pulih hingga puluhan tahun.

Namun, dalam konteks emas lokal, penurunan harga emas relatif lebih terbatasi karena faktor kurs dolar AS. Grafik emas juga memberi petunjuk sebaiknya emas diperlakukan sebagai aset lindung nilai jangka panjang agar bisa memberikan keuntungan maksimal.

(rui/dre)

No more pages