Ekonomi China mengalami perlambatan tajam untuk bulan kedua berturut-turut pada Agustus, menandakan lemahnya permintaan domestik. Pemerintah menghadapi kesulitan dalam mendorong konsumsi karena pasar tenaga kerja yang lesu dan sektor properti yang masih terpuruk.
Konsumsi jasa kini menjadi salah satu fokus utama.
Selama ini pemerintah memang telah memberikan subsidi untuk barang konsumsi, tetapi sektor jasa dinilai memiliki potensi besar dalam membuka permintaan tambahan — khususnya di bidang pariwisata dan hiburan yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan konsumen.
Dalam laporan kebijakan moneter kuartalan terbarunya pada Agustus, bank sentral China menyebut pengalaman negara lain menunjukkan bahwa seiring meningkatnya pendapatan, pola belanja masyarakat akan bergeser dari dominasi barang menuju jasa.
Pada 2024, konsumsi jasa menyumbang sedikit di atas 46% dari total belanja rumah tangga di China. “Masih ada ruang yang sangat besar untuk tumbuh,” demikian laporan tersebut.
(bbn)




























