“Daripada fokus sama pengobatan stressnya sih, saya lebih baik pencegahan terhadap alasan stresnya yaa. kalau orang stress karena macet, ya diperbaiki infrastruktur jalannya biar nggak macet. Orang stress karena pendapatan, ya naikkan upah minimun,” ucapnya
Psikolog Veronica Adesla menjelaskan tingginya biaya hidup, ketidakstabilan ekonomi, hingga kasus kejahatan yang menimbulkan rasa tidak aman menjadi pemicu stres dan depresi di Jakarta. Menurutnya, beberapa perusahaan telah menyediakan *Employee Assistance Program* (EAP) dan asuransi psikolog dengan sistem *reimbursement*, namun aksesnya belum merata.
“Untuk faktor-faktor yang bisa menyebabkan ataupun berhubungan dengan tingkat stres dan depresi antara lain; Tekanan hidup dan kesulitan yang harus dihadapi di jakarta, seperti biaya hidup yang tinggi namun sulit mencari pekerjaan, pemasukan yang tidak mampu memenuhi biaya hidup yang tinggi” ucapnya
Kemenkes menyebut data skrining ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan perusahaan untuk memperluas akses layanan kesehatan mental, sekaligus mengupayakan kebijakan pengendalian polusi, perbaikan transportasi, dan dukungan ekonomi yang dapat menurunkan tekanan hidup masyarakat.
(fik/spt)





























