Logo Bloomberg Technoz

Strategi Bertahan UMKM Lewat Media Sosial

Andrean Kristianto
30 January 2026 19:36

Pengrajin menyelesaikan pembuatan tas di Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pengrajin menyelesaikan pembuatan tas di Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pandemi Covid-19 telah usai beberapa tahun lalu, tetapi pelaku UMKM masih menghadapi tekanan penurunan daya beli masyarakat.

Pandemi Covid-19 telah usai beberapa tahun lalu, tetapi pelaku UMKM masih menghadapi tekanan penurunan daya beli masyarakat.

Penjualan produk masih mengalami penurunan meskipun pandemi Covid-19 telah berakhir beberapa tahun lalu. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Penjualan produk masih mengalami penurunan meskipun pandemi Covid-19 telah berakhir beberapa tahun lalu. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pemilk merek tas Biyantie mengatakan mengalami penurunan penjualan hingga 70% jika dibanding sebelum pandemi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pemilk merek tas Biyantie mengatakan mengalami penurunan penjualan hingga 70% jika dibanding sebelum pandemi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Produk impor berharga murah juga menjadi tantangan bagi UMKM karena persaingan harga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Produk impor berharga murah juga menjadi tantangan bagi UMKM karena persaingan harga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Produk impor berharga murah sulit diimbangi oleh biaya produksi dalam negeri. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Produk impor berharga murah sulit diimbangi oleh biaya produksi dalam negeri. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Hal ini tentu akan merugikan barang-barang berkualitas dari produsen Indonesia. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Hal ini tentu akan merugikan barang-barang berkualitas dari produsen Indonesia. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pemanfaatan platform marketplace dan media sosial dilakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menghadapi persaingan produk impor.

Pemanfaatan platform marketplace dan media sosial dilakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menghadapi persaingan produk impor.

Strategi tersebut dilengkapi dengan live shopping di media sosial yang berdampak positif bagi pemasaran dan penjualan produk. (Bloomberg Technoz)

Strategi tersebut dilengkapi dengan live shopping di media sosial yang berdampak positif bagi pemasaran dan penjualan produk. (Bloomberg Technoz)

Pengrajin menyelesaikan pembuatan tas di Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pandemi Covid-19 telah usai beberapa tahun lalu, tetapi pelaku UMKM masih menghadapi tekanan penurunan daya beli masyarakat.
Penjualan produk masih mengalami penurunan meskipun pandemi Covid-19 telah berakhir beberapa tahun lalu. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pemilk merek tas Biyantie mengatakan mengalami penurunan penjualan hingga 70% jika dibanding sebelum pandemi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Produk impor berharga murah juga menjadi tantangan bagi UMKM karena persaingan harga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Produk impor berharga murah sulit diimbangi oleh biaya produksi dalam negeri. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Hal ini tentu akan merugikan barang-barang berkualitas dari produsen Indonesia. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pemanfaatan platform marketplace dan media sosial dilakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menghadapi persaingan produk impor.
Strategi tersebut dilengkapi dengan live shopping di media sosial yang berdampak positif bagi pemasaran dan penjualan produk. (Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah usai beberapa tahun lalu, tetapi pelaku UMKM masih menghadapi tekanan penurunan daya beli masyarakat. Pemilik merek menerapkan strategi pemasaran digital untuk menjaga keberlangsungan usaha serta memperluas jangkauan pasar.

Setiawan Ananto (44), pemilik merek tas Biyantie, menyampaikan dampak penurunan penjualan yang signifikan terhadap usahanya. “Omzetnya kalau sebelum covid bisa diatas Rp1M/perbulan, kalau sekarang mungkin 50%nya ga sampai, terasa banget penurunan, ya 70%,” kata Anan.

Produk impor berharga murah juga menjadi tantangan bagi UMKM karena persaingan harga yang sulit diimbangi oleh biaya produksi dalam negeri.

“Agak susah kita main di harga murah, udah dipastikan ga bisa dari segi harga ga bisa, tapi kalau kualitas kita bisa lebih, karena apa, gaji produksi kan UMR, itu pasti rugi, kalau kita jual dibawah Rp100.000. Itu baru dari gaji belum, operasional, bahan baku kulitnya, ga masuk mau harga Rp100 ribuan kita yang ngos-ngosan,” ungkap Anan.

Pemanfaatan platform marketplace dan media sosial dilakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menghadapi persaingan produk impor. Strategi tersebut dilengkapi dengan live shopping di media sosial yang berdampak positif bagi pemasaran dan penjualan produk.

(dre)