Logo Bloomberg Technoz

Kilang Pertamina Internasional Optimalkan Produksi Sepanjang 2025


(Dok. Kilang Pertamina)
(Dok. Kilang Pertamina)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kilang Pertamina Internasional (KPI) menutup tahun 2025 dengan capaian kinerja operasional yang solid dan melampaui target. Pencapaian ini menegaskan peran strategis KPI sebagai tulang punggung pengolahan energi nasional sekaligus pilar penting dalam agenda swasembada energi Indonesia.

Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman menyampaikan bahwa sepanjang Januari hingga Desember 2025, total bahan baku yang diolah KPI mencapai lebih dari 330 juta barel. Angka tersebut melampaui target awal sekitar 315 juta barel atau lebih tinggi sekitar 5,8 persen dari rencana kerja yang ditetapkan.

“Angka ini melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, yakni sekitar 315 juta barel atau diatas target sekitar 5,8%,” jelas Taufik dalam Town Hall Meeting KPI yang digelar di Jakarta.

Bahan baku yang diolah mencakup minyak mentah, produk intermedia seperti Naphta dan HOMC, serta gas. Peningkatan volume pengolahan ini mencerminkan keandalan operasional kilang sekaligus keberhasilan KPI dalam menjaga kontinuitas pasokan energi di tengah dinamika industri migas global.

Tidak hanya dari sisi volume, KPI juga mencatatkan peningkatan signifikan pada efektivitas pengolahan. Sepanjang 2025, total yield valuable product mencapai 83 persen dari volume intake. Capaian tersebut menunjukkan efisiensi proses produksi dalam menghasilkan BBM, NBBM, serta produk petrokimia bernilai tambah tinggi.

Menurut Taufik, kinerja positif tersebut tidak terlepas dari upaya berkelanjutan KPI dalam menjaga keandalan kilang. Salah satu indikator utamanya adalah pencapaian Plant Availability Factor atau PAF yang tetap terjaga pada level optimal.

“Secara umum, operasional kilang menunjukkan tren positif dengan upaya meningkatkan intake, yield valuable kilang, melaksanakan program efisiensi energi, serta menjaga kehandalan kilang,” ujar Taufik.

Inovasi Operasi dan Diversifikasi Produk

(Dok. Kilang Pertamina)

Sepanjang 2025, KPI juga mencatatkan sejumlah pencapaian strategis yang memperkuat daya saing perusahaan. Salah satunya adalah inovasi di Kilang Cilacap melalui perubahan mode operasi dengan program Block Mode Kilang 1 Cilacap.

Melalui inovasi tersebut, Kilang Cilacap mampu meningkatkan porsi produk bernilai tinggi secara signifikan. Dampaknya, yield valuable product di kilang ini mencapai 89 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata sebelumnya.

“Di kilang Cilacap, KPI berinovasi dengan melakukan perubahan mode operasi melalui program Block Mode Kilang 1 Cilacap. Dampaknya Kilang Cilacap mampu menghasilkan lebih banyak produk Valuable mencapai angka 89%,” kata Taufik.

Selain inovasi operasional, KPI juga melakukan berbagai langkah optimasi dalam pengadaan bahan baku. Diversifikasi produk menjadi fokus penting perusahaan untuk menjawab kebutuhan pasar sekaligus tuntutan transisi energi yang berkelanjutan.

KPI berhasil meningkatkan produksi produk bernilai jual tinggi dan ramah lingkungan dengan kadar sulfur rendah. Tidak hanya itu, KPI juga memperkuat portofolio biofuel melalui pengembangan Green Diesel atau HVO serta Pertamina Sustainable Aviation Fuel atau PertaminaSAF.

Langkah ini menunjukkan kesiapan KPI dalam mendukung agenda energi bersih nasional sekaligus memperluas kontribusi perusahaan pada pengurangan emisi karbon di sektor energi dan transportasi.

Dari sisi keberlanjutan, KPI mencatatkan pencapaian positif pada aspek Environmental, Social, and Governance atau ESG. KPI meraih peringkat “BB” yang mencerminkan kinerja keberlanjutan yang solid serta pengelolaan risiko ESG yang terstruktur di industri energi.

Pada aspek manajemen risiko, KPI berada pada level Praktik yang Baik dengan capaian Risk Maturity Index di kisaran 3,30 hingga 3,50. Capaian ini menunjukkan sistem manajemen risiko perusahaan yang semakin matang dan terintegrasi dengan proses bisnis.

“KPI juga memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada aspek finansial dengan mendapatkan peringkat ‘BBB’ credit rating dari dari S&P dan Fitch. Ini mencerminkan fundamental keuangan yang solid,” ujar Taufik.

Salah satu pencapaian strategis paling monumental KPI adalah keberhasilan proyek RDMP Balikpapan atau Refinery Development Master Plan. Proyek ini dinilai tidak hanya penting bagi KPI, tetapi juga bagi Pertamina dan ketahanan energi nasional secara keseluruhan.

Proyek modernisasi ini meningkatkan kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan hingga 360 ribu barel per hari. Selain itu, kualitas produk yang dihasilkan telah setara standar Euro 5 dengan tingkat kompleksitas kilang yang semakin tinggi.

“Proyek mondernisasi kilang yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan hingga mencapai 360 ribu barrel per hari, kualitas produk yang setara euro 5, dan kompleksitas kilang yang meningkat merupakan bagian dari infrastruktur energi terintegrasi yang dibangun Pertamina,” jelas Taufik.

Sebagai tonggak penting, proyek RDMP Balikpapan telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026. Peresmian ini menandai kesiapan kilang modern Indonesia dalam mendukung ketahanan energi jangka panjang.

Menutup pemaparannya, Taufik menegaskan bahwa kilang merupakan mata rantai penting dalam mewujudkan swasembada energi nasional. Capaian kinerja sepanjang 2025 diharapkan menjadi fondasi kuat untuk menghadapi tantangan di tahun berikutnya.

“Kilang adalah mata rantai swasembada energi. Semoga pencapaian 2025 menjadi pijakan anak tangga untuk meraih kinerja yang lebih baik lagi ditahun 2026,” tutup Taufik.

Sebagai anak perusahaan Pertamina, KPI terus menjalankan bisnis pengolahan minyak dan petrokimia dengan mengedepankan prinsip ESG. KPI juga telah terdaftar dalam United Nations Global Compact dan berkomitmen pada Sepuluh Prinsip Universal dalam seluruh strategi operasionalnya.

Ke depan, KPI menargetkan untuk terus meningkatkan kinerja operasional, memperkuat inovasi, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan infrastruktur energi nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing global.