China kini menjadi eksportir mobil terbesar ke Meksiko, kondisi yang membuat gusar AS di tengah perang dagang yang dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap negara Asia itu. Langkah ini dinilai sebagai upaya Meksiko untuk meredakan ketegangan dengan mitra dagang terbesarnya, sekaligus berisiko memperluas konflik ekonomi global.
AS dan Kanada tidak akan terdampak karena terikat perjanjian dagang bebas USMCA dengan Meksiko. Keduanya bahkan sudah lebih dulu menutup pintu bagi kendaraan asal China.
“Ini langkah proteksionis ala Trump, semacam upaya membentuk blok bersama melawan China. Hal ini wajar menjelang peninjauan ulang USMCA,” ujar Gabriela Siller, Direktur Analisis Ekonomi Banco Base. “Kebijakan ini bisa meredakan ketegangan dengan Trump sekaligus menambah penerimaan negara. Namun, konsumen dan produsen akan menanggung biayanya.”
USMCA dijadwalkan akan ditinjau pada 2026, yang berpotensi membuka pintu negosiasi ulang antara ketiga negara.
Selain China, negara lain yang terdampak karena tak memiliki perjanjian dagang dengan Meksiko antara lain Thailand, Indonesia, Rusia, dan Turki. Sementara itu, Uni Eropa, Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Singapura bebas dari beban tarif baru ini.
Proposal tarif masuk dalam rancangan anggaran 2026 yang diajukan pemerintah ke Kongres pekan ini. Dengan mayoritas yang nyaman di kedua kamar legislatif, pemerintah diyakini akan mudah meloloskan rencana tersebut. Tarif baru berlaku 30 hari setelah dipublikasikan di lembaran resmi negara.
Alfonso Ramírez Cuéllar, anggota Komisi Keuangan DPR, mengatakan para legislator tengah menilai besaran tarif untuk tiap produk sebelum dibahas lebih lanjut. Menurutnya, kebijakan ini akan memperkuat hubungan dagang di Amerika Utara dalam negosiasi dengan pemerintahan Trump.
Asosiasi Mobil Penumpang China mencatat ekspor mobil China ke Meksiko naik hampir 25% pada semester I 2025 dibanding periode sama tahun lalu, menjadikan Meksiko pasar terbesar menggantikan Rusia.
Produsen besar seperti General Motors, Ford, dan Stellantis juga mengirim mobil buatan China ke Meksiko serta Amerika Latin. Di sisi lain, merek China seperti BYD makin populer, terutama di kalangan pengemudi Uber.
Namun, kebijakan tarif ini diperkirakan akan mendorong kenaikan harga mobil di Meksiko.
“Keputusan pemerintah ini merupakan perubahan drastis bagi perdagangan kendaraan,” kata Guillermo Rosales, Ketua Asosiasi Diler Mobil Meksiko (AMDA). “Seiring berkurangnya stok, harga pasti akan naik. Persaingan di pasar domestik berkurang dan konsumen kehilangan pilihan.”
Rosales menambahkan, kenaikan tarif juga berisiko mengganggu investasi besar yang sudah ditanamkan jaringan distribusi domestik untuk merek-merek mobil China, dengan nilai lebih dari 60 miliar peso dan menciptakan 32.000 lapangan kerja langsung.
“Biaya pembelian kendaraan listrik, hibrida, maupun plug-in juga akan meningkat,” ujarnya.
Selain otomotif, sektor lain pun berpotensi terdampak. China mencatat surplus dagang besar dengan Meksiko, mencapai 71 miliar dolar AS tahun lalu. Pemerintah Meksiko mendorong perusahaan mencari pemasok lokal, namun analis menilai perubahan cepat hampir mustahil dilakukan.
“Idealnya, Anda harus memastikan adanya modal dan kapasitas industri yang cukup untuk memproduksi input tersebut. Itu proses yang butuh waktu bertahun-tahun, bukan hanya beberapa bulan,” kata Diego Marroquin, peneliti di Center for Strategic and International Studies, Washington.
(bbn)
































