Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan rupiah pagi ini kemungkinan masih terbebani oleh sentimen rencana 'burden sharing' pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia demi mendukung program belanja pemerintah Presiden Prabowo Subianto.

Kabar itu juga berdampak pada pergerakan harga SBN di pasar di mana pagi ini, tenor 10Y melanjutkan kenaikan tingkat imbal hasil tipis 0,1 bps mencerminkan tekanan harga masih berlanjut.

Sedang tenor 2Y juga naik yield-nya tipis 0,8 bps kini di 5,325%. Gerak rupiah yang masih di zona merah dan tekanan harga di pasar SUN yang telah berlangsung sejak kemarin, menunjukkan pasar masih diliputi ketidakpastian.

"Pergerakan ini menunjukkan reaksi negatif atas pemberitaan kebijakan burden sharing, tetapi investor agak berhati-hati dalam menanggapi pemberitaan tersebut. Kehati-hatian ini berlandaskan pada pengumuman yang bersifat tiba-tiba. Bahkan, para anggota Komisi XI DPR RI tak mengetahui adanya burden sharing selain reinvestasi obligasi VR era pandemi melalui debt switching, pembelian SPN/SPNS di pasar lelang dan pembelian di pasar sekunder," kata tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatannya, pagi ini.

Bank Indonesia dalam pernyataan terbaru pagi ini mengatakan, sinergi kebijakan moneter dan fiskal demi mendorong pertumbuhan ekonomi akan dilakukan secara berhati-hati dan sejalan dengan disiplin dan integritas pasar.

"Pembelian obligasi [SUN] oleh bank sentral dilakukan secara terukur dan transparan sejalan dengan upaya menjaga stabilitas dan kredibilitas kebijakan moneter," demikian pernyataan Bank Indonesia, dilansir Bloomberg News.

BI mendukung pertumbuhan ekonomi dalam bentuk pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder dan pembagian biaya bunga untuk program terkait perumahan rakyat dan koperasi.

Sebagai gambaran, BI saat ini menguasai sekitar Rp1.609,9 triliun SBN (gross) di pasar per data 1 September, memasukkan BI ke kelompok langka sebagai bank sentral yang menjadi pemegang obligasi pemerintah terbesar, bersama Bank of Japan.

(rui)

No more pages