Logo Bloomberg Technoz

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, meski tarif AS belum resmi diterapkan pada Juli tetapi pemerintah mencermati adanya penundaan pembayaran dari importir di luar negeri kepada eksportir Indonesia.

"Ini sekedar cerita saja. Urusan DHE (Devisa Hasil Ekspor) misalkan, ternyata pembayaran pihak pembeli di luar negeri kepada eksportir kita mengalami penundaan," kata Susiwijono.

Perubahan pelaku usaha ini menunjukkan bahwa efek kebijakan global juga dapat mempengaruhi sentimen dan ekspektasi pasar. 

"Faktanya kita sudah berdebat menghitung dampak ini semuanya ke ekonomi. Sebelum realisasi, perilaku bisnis berubah," ucapnya.

Tumpukan peti kemas di areal pelabuhan./dok. Bloomberg

Impor dan Neraca Perdagangan

Sementara itu, konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi pertumbuhan impor Juli sebesar -5% yoy. Jika terwujud, maka akan menjadi kontraksi pertama dalam 6 bulan.

Impor Indonesia didominasi oleh kebutuhan industri dalam negeri. Lebih dari 90% impor adalah berupa bahan baku/penolong dan barang modal untuk keperluan produksi domestik.

Sayangnya, industri manufaktur Tanah Air sedang lesu. S&P Global melaporkan, aktivitas manufaktur Indonesia yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di 49,2 untuk periode Juli.

PMI di bawah 50 menunjukkan aktivitas yang kontraksi, bukan ekspansi. Aktivitas manufaktur Indonesia sudah berada di zona kontraksi selama 4 bulan berturut-turut.

"Data Juli mengindikasikan kembali negatifnya situasi manufaktur Indonesia. Penurunan produksi dan pemesanan baru terus terjadi pada awal kuartal III-2025, meski melandai dibandingkan Juni.

"Pada saat yang sama, permintaan ekspor masih lemah. Pengusaha juga masih menahan diri, terlihat dari penurunan penciptaan lapangan kerja dan pembelian bahan baku.

"Keyakinan terhadap tahun mendatang turun tajam pada Juli, dengan tingkat optimisme yang mencapai titik terendah sepanjang sejarah pencatatan. Dunia usaha mencemaskan tarif Amerika Serikat (AS) dan penurunan daya beli yang bisa menghambat volume produksi tahun mendatang," jelas Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence.

Kontraksi impor mendukung neraca perdagangan tetap surplus di tengah perlambatan ekspor. Konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 3 miliar pada Juli.

Jika terwujud, maka surplus neraca perdagangan akan terjadi selama 63 bulan berturut-turut. 

(aji)

No more pages