Logo Bloomberg Technoz

Mayapada Luncurkan Layanan Terpadu Kesehatan Liver di Bandung


(Dok. Mayapada Hospital)
(Dok. Mayapada Hospital)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mayapada Healthcare kembali memperluas layanan kesehatan dengan meluncurkan Liver, Metabolic & Wellness Center (LMWC) di Mayapada Hospital Bandung. Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam merespons meningkatnya kasus penyakit liver yang berkaitan erat dengan gangguan metabolik.

Layanan ini dirancang untuk memberikan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya pada pengobatan tetapi juga pada deteksi dini dan pencegahan. Kondisi seperti obesitas, diabetes, dan dislipidemia menjadi faktor utama yang kini semakin sering dikaitkan dengan penyakit hati.

Hospital Director Mayapada Hospital Bandung, dr. Irwan Susanto Hermawan, menegaskan bahwa penyakit liver metabolik kerap tidak terdeteksi pada tahap awal. Hal ini menjadikan penanganan sering terlambat ketika kondisi sudah berkembang lebih serius.

“Penyakit hati metabolik, termasuk perlemakan hati (fatty liver), sering kali berkembang tanpa gejala. Banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika sudah memasuki tahap lanjut. Melalui Liver, Metabolic & Wellness Center (LMWC), kami ingin mengubah pendekatan dari sekadar pengobatan menjadi deteksi dini dan pencegahan yang lebih terintegrasi. Layanan ini mengedepankan pendekatan multidisiplin dengan program wellness yang komprehensif, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan,” ujar dr. Irwan.

LMWC menghadirkan layanan terintegrasi yang mencakup kesehatan liver, gangguan metabolik, hingga pengelolaan berat badan. Fokus utamanya adalah mengidentifikasi risiko sejak dini agar pasien mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan personal.

Pendekatan Multidisiplin dan Teknologi Modern

Dalam implementasinya, LMWC didukung oleh tim multidisiplin yang terdiri dari berbagai spesialis. Mulai dari spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, bedah digestif, hingga spesialis endokrin, gizi klinik, dan kedokteran olahraga.

Pendekatan ini memungkinkan setiap pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh. Tidak hanya fokus pada satu aspek penyakit, tetapi juga mempertimbangkan kondisi metabolik dan gaya hidup pasien secara keseluruhan.

Alur layanan dimulai dari skrining awal untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan. Setelah itu, pasien akan menjalani evaluasi medis, pendampingan gizi, hingga terapi medis sesuai kebutuhan.

Jika diperlukan, tindakan lanjutan juga dapat dilakukan dengan pemantauan rutin. Pendekatan ini memastikan setiap intervensi dilakukan secara tepat waktu dan berkelanjutan.

Dari sisi teknologi, LMWC memanfaatkan FibroScan untuk menilai kondisi jaringan hati secara non-invasif. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini kerusakan hati tanpa prosedur yang invasif.

Selain itu, terdapat juga Total Body Matrix Assessment yang digunakan untuk mengevaluasi komposisi tubuh dan indikator metabolik. Data ini menjadi dasar dalam menentukan program perawatan yang sesuai bagi setiap pasien.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Bandung, Prof. Dr. dr. Reno Rudiman, menyoroti keterkaitan erat antara obesitas dan penyakit liver. Ia menegaskan bahwa obesitas merupakan faktor utama yang memicu berbagai gangguan metabolik.

“Obesitas tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga memicu berbagai gangguan metabolik, termasuk fatty liver. Tanpa penanganan yang tepat, fatty liver dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti sirosis hingga kanker hati. Oleh karena itu, penyakit ini perlu dikendalikan melalui deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta penyesuaian pola makan dan gaya hidup. Mengingat prevalensinya yang terus meningkat dan tingginya kasus yang belum terdiagnosis, pendekatan komprehensif sejak awal menjadi sangat penting. Dalam kasus tertentu, ketika intervensi gaya hidup dan terapi medis belum memberikan hasil optimal, bariatric surgery menjadi terapi yang terbukti efektif dalam mengendalikan obesitas sekaligus memperbaiki kondisi metabolik secara menyeluruh,” jelas Prof. Reno.

Ia juga menambahkan bahwa fatty liver atau Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease kini menjadi salah satu penyakit hati paling umum di dunia. Prevalensinya bahkan mencapai sekitar 30 persen populasi dewasa.

“Artinya, hampir satu dari tiga orang dewasa berisiko mengalami fatty liver. Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes, serta sering kali tidak bergejala di tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi saat sudah lanjut. Penanganan fatty liver tidak cukup hanya dengan obat, tetapi memerlukan perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif dengan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci untuk hasil yang optimal,” ujarnya.

Hadirnya LMWC menjadi bagian dari penguatan layanan Gastrohepatology Center di jaringan Mayapada Hospital. Inisiatif ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan mudah diakses.

Saat ini, layanan serupa telah tersedia di berbagai kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Surabaya, dan Bandung. Ke depan, Mayapada Healthcare juga berencana memperluas jangkauan layanan ke wilayah lain, termasuk Jakarta Timur.

Dengan dukungan tenaga medis profesional dan fasilitas modern, Mayapada Healthcare berupaya memberikan layanan kesehatan yang komprehensif bagi masyarakat. Mulai dari tahap skrining hingga terapi lanjutan dapat diakses melalui berbagai kanal layanan yang tersedia.

Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Mayapada Healthcare sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan terintegrasi di Indonesia. Fokus pada deteksi dini dan pencegahan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.