Logo Bloomberg Technoz

Efek Perang Iran, Malaysia Alami Lonjakan Permintaan Tenaga Surya

News
15 April 2026 14:30

Pembangkit listrik tenaga surya terapung di Singapura. Fotografer: Bryan van der Beek/Bloomberg
Pembangkit listrik tenaga surya terapung di Singapura. Fotografer: Bryan van der Beek/Bloomberg

Ram Anand dan Anuradha Raghu - Bloomberg News

Bloomberg, Perusahaan Malaysia, Solarvest Holdings Bhd, berupaya mempercepat penyelesaian proyek-proyek skala besarnya guna memenuhi lonjakan permintaan energi terbarukan karena perang di Iran mendorong kenaikan biaya bahan bakar fosil.

“Jika sebuah proyek membutuhkan waktu 18 hingga 24 bulan untuk diselesaikan, kami perlu berdiskusi dengan regulator mengenai bagaimana kami dapat mengeksekusinya lebih cepat, mungkin menjadi 12 hingga 16 bulan,” kata CEO Solarvest, Davis Chong, dalam wawancara pada Selasa.


Solarvest, perusahaan tenaga surya terbesar di Malaysia, membangun kapasitas berskala besar untuk disalurkan ke jaringan listrik negara, serta proyek-proyek energi terbarukan korporat melalui perjanjian pembelian langsung.

Perusahaan akan menambah sekitar 1,3 gigawatt kapasitas tenaga surya pada 2026 dan setidaknya 5 gigawatt lagi hingga 2028, menurut informasi di situs web Solarvest. Perusahaan berencana mengimplementasikan proyek-proyek surya berskala besar untuk operator jaringan Tenaga Nasional Bhd mulai tahun depan.