Logo Bloomberg Technoz

Neraca Dagang RI Diramal Surplus 63 Bulan Beruntun

Hidayat Setiaji
30 August 2025 09:09

Sebuah kapal tanker minyak sedang berlabuh di fasilitas PT.Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok./Bloomberg-Dimas Ardian
Sebuah kapal tanker minyak sedang berlabuh di fasilitas PT.Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekspor Indonesia pada Juli diperkirakan tumbuh melambat. Sementara impor mengalami kontraksi (tumbuh negatif) sehingga neraca perdagangan masih tetap terjaga surplus.

Pada Senin (1/9/2025), Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan kinerja perdagangan internasional Indonesia periode Juli. Konsensus Bloomberg yang dihimpun hingga Jumat (29/8/2025) sore menghasilkan median proyeksi pertumbuhan ekspor Juli di 6,1% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Jika terwujud, maka melambat dibandingkan Juni yang melonjak 11,29% yoy.


Perkembangan harga sejumlah komoditas mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Batu bara, misalnya. Harga batu bara internasional ICE Newcastle turun nyaris 5% sepanjang Agustus. 

Kemudian belum jelasnya kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) pada Juli juga membuat dunia usaha cenderung wait and see. Sebagai catatan, tarif bea masuk 19% terhadap produk Indonesia ke AS baru berlaku pada awal Agustus.