Sementara itu di sepanjang tahun lalu, kapitalisasi pasar Xiaomi telah bertambah sebesar US$120 miliar terdorong oleh ekspansi EV yang semakin solid meski berhadapan dengan pesaing yang jauh lebih besar dan berpengalaman. Perusahaan juga terlihat berhasil mengatasi dampak kecelakaan fatal yang melibatkan sedan SU7 pada Maret lalu, saat fitur Autopilot diaktifkan. Insiden itu membuat regulator memperketat penerapan teknologi bantuan pengemudi canggih.
Pemerintah China pada Juni lalu juga turun tangan untuk meredakan perang harga berkepanjangan yang menekan margin di seluruh rantai pasok otomotif. Xiaomi sejauh ini berhasil menghindari keterlibatan dalam praktik diskon agresif karena permintaan mobilnya masih tinggi.
Meski begitu, valuasi saham Xiaomi kini diperdagangkan lebih mahal dibanding BYD maupun rival global di segmen smartphone, Samsung Electronics Co.
Menurut Bloomberg Intelligence, pendapatan dari segmen EV pintar dan inisiatif baru lainnya kemungkinan tumbuh 11% secara kuartalan, didorong peningkatan kapasitas produksi. Divisi internet of things (IoT) diperkirakan mencatatkan pertumbuhan penjualan 30–40% berkat perolehan pangsa di produk elektronik rumah tangga serta subsidi pemerintah.
Namun, penjualan ponsel kemungkinan hanya tumbuh di kisaran satu digit menengah. Margin laba kotor diperkirakan meningkat menjadi 22,5% secara tahunan berkat skala produksi EV dan bauran produk IoT yang lebih baik, meski mungkin sedikit tertekan dibanding kuartal pertama karena promosi penjualan serta biaya input smartphone yang meningkat.
Xiaomi juga memperkuat investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) dan desain chip. Perusahaan yang berbasis di Beijing itu meluncurkan chip 3 nanometer bernama Xring O1, yang dirancang untuk mendukung perangkat seperti Tablet 7 Ultra. Lei mengatakan Xiaomi akan menginvestasikan 7 miliar dolar AS selama dekade ini untuk pengembangan semikonduktor.
(bbn)



























