Kehadiran TMAI diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen industri energi di Indonesia dan mempercepat hilirisasi industri, termasuk penciptaan ekosistem dan rantai pasok energi surya dalam negeri.
Percepatan ekosistem manufaktur itu di antaranya menyasar pada industri pendukung, pembuatan wafer dan ingot-bahan umumnya silikon yang digunakan dalam industri semikonduktor, serta pengembangan smelter polisilikon.
Langkah kerja sama ini sekaligus relevan dengan program prioritas pemerintah untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto, termasuk inisiatif PLTS desa melalui skema Koperasi Desa.
Pemerintah menilai investasi dan transfer teknologi dari produsen global akan mempercepat realisasi target tersebut.
Kementerian ESDM berharap pertemuan itu ikut mendorong potensi kerja sama pengembangan rantai pasok dan ekosistem energi surya dalam negeri.
Selain itu, Kementerian ESDM menerangkan, kerja sama dengan Trina Solar bisa menjangkau pemanfaatan dan transfer teknologi terbaru yang lebih canggih, dan pengembangan solusi energi terintegrasi mulai dari riset dan pengembangan, manufaktur, pengembangan proyek sistem berbasis Internet of Things (IoT) dan penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).
Menurut data Kementerian ESDM, Indonesia menyimpan potensi energi solar mencapai 3.294 GWp, namun hingga Desember 2024 lalu, baru 912 megawatt (MW) yang diamanfaatkan.
(naw)
































