Namun, khusus isu produksi nickel pig iron (NPI) untuk bahan baku baja nirkarat atau stainless steel, kemungkinan akan lebih cepat terkendali dibandingkan dengan nikel-kobalt hidroksida alias mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nickel matte untuk bahan baku baterai.
“Karena pertumbuhan stainless steel lebih stabil di kisaran 3%—4% per tahun, sedangkan pertumbuhan smelter [pirometalurgi yang memproduksi] NPI sudah jauh melambat dibandingkan dengan sebelumnya,” ujarnya.
Sebaliknya, kata Djoko, kebutuhan nikel untuk baterai lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebelumnya.
Di sisi lain, pertumbuhan smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) yang memproduksi MHP di Tanah Air tengah meningkat sehingga terjadi oversupply MHP dalam waktu lama.
“Akan tetapi, untuk nickel ore market makin ketat sejak 2023 sehingga harga ore >1,40% nikel terus meningkat sangat signifikan karena kekurangan ore, terpaksa impor dari Filipina,” ucapnya.
Menurut data APNI, saat ini terdapat 120 proyek smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) di Indonesia yang membutuhkan total 584,9 juta ton bijih nikel.
Perinciannya; sebanyak 49 sudah beroperasi dengan kebutuhan 240,2 juta ton bijih nikel, 35 masih dalam tahap konstruksi dengan taksiran kebutuhan 150,3 juta ton bijih, dan 36 masih dalam tahap perencanaan dengan estimasi kebutuhan 194,5 juta ton bijih.
Sementara itu, proyek hidrometalurgi atau HPAL hanya sebanyak 27 dengan kebutuhan total 150,3 juta ton bijih nikel.
Perinciannya; sebanyak 5 sudah beroperasi dengan kebutuhan 48,2 juta ton bijih nikel, 3 masih dalam tahap konstruksi dengan taksiran kebutuhan 33,6 juta ton bijih, dan 19 masih dalam tahap perencanaan dengan estimasi kebutuhan 68,5 juta ton bijih.
Dengan demikian total proyek smelter nikel di Indonesia mencapai 147 proyek dengan estimasi total kebutuhan bijih 735,2 juta ton. Sementara itu, RKAB nikel yang disetujui untuk 2025 mencapai 364 juta ton, naik dari tahun lalu sebanyak 319 juta ton.
Di sisi lain, Djoko menuturkan kuota rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tambang nikel sebanyak 364 juta ton pada 2025 sejatinya sudah mencukupi, tetapi sebagian tambang belum bisa mencapai target produksinya karena berbagai masalah terutama akibat musim hujan yang panjang.
Nikel di London Metal Exchange (LME) diperdagangkan di harga US$15.064/ton hari ini, turun 0,88% dari penutupan hari sebelumnya. Harga nikel telah anjlok dari rekor tertingginya di atas US$20.000/ton pada rentang 2022—2023.
Tekanan RKEF
Dilaporkan Bloomberg Technoz sebelumnya, industri smelter nikel khususnya yang berbasis RKEF atau pirometalurgi di Indonesia yang selama ini sudah cukup tertekan. Beberapa pemain besar di sektor ini bahkan telah melakukan penyetopan lini produksi sementara sejak awal tahun ini.
Tsingshan Holding Group Co, misalnya, mengonfirmasi kabar penghentian sementara sejumlah lini produksi baja nirkaratnya di Indonesia, yang terpaksa dilakukan seiring dengan berlanjutnya tekanan harga nikel pada tahun ini.
Nickel and New Energy Research Director Tsingshan, Lynn, mengatakan penyetopan sementara—bukan penutupan — lini produksi dilakukan di lini produksi canai dingin atau cold roll pabrik baja nirkaratnya yang beroperasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.
“Ya, kami telah menghentikan jalur produksi cold rolling,” ujarnya kepada Bloomberg Technoz, awal Juni.
Bagaimanapun, Lynn menolak untuk mendetailkan lebih lanjut volume produksi baja nirkarat yang dihentikan sementara oleh Tsingshan di Indonesia.
“Situasi terperincinya tidak bisa kami ungkapkan. Saya tidak bisa bicara tentang produksi kami sendiri, tetapi total produksi di Indonesia [masih] baik-baik saja,” kata Lynn.
Secara umum, lanjutnya, Lynn mengindikasikan produksi dari smelter nikel pirometalurgi di Indonesia masih aman untuk tahun ini.
Untuk NPI, misalnya, Tsingshan memproyeksikan output atau produksi dari Indonesia mencapai 1,74 juta ton pada 2025.
Adapun, Global Sales Head Eternal Tsingshan Group Ltd Steven Chen mengutarakan margin industri smelter nikel RKEF—tidak hanya di Indonesia, tetapi di tingkat global — tengah tertekan, bahkan ada yang mencapai nol dan nyaris nol.
Industri smelter, terangnya, tengah tertekan oleh situasi ketidakpastian global akibat sentimen perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China. Belum lagi, harga nikel terus terpangkas dan menjauhi rekor seperti periode short squeeze pada 2022.
“Kami juga mendengar soal pemangkasan produksi baja nirkarat di Indonesia. Di Morowali juga terjadi pemangkasan kecil. Ini adalah fenomena lazim hari-hari ini, baik di China maupun di Indonesia,” terangnya di sela agenda Critical Minerals Conference & Expo, awal bulan lalu.
Chen menggambarkan harga baja nirkarat di Negeri Panda juga kian rontok. Untuk itu, Tsingshan saat ini lebih fokus untuk mengirimkan produksinya di Indonesia ke pasar-pasar luar negeri lainnya, ketimbang reekspor ke negara asal perusahaan itu, yaitu China.
“Saya pikir pada kuartal I-2025, ekspor ke China mencakup 29% dari total produksi baja nirkarat Indonesia. Ini adalah realisasi terendah dalam, mungkin, bertahun-tahun terakhir,” tuturnya.
Melihat kondisi harga nikel dan baja nirkarat yang bergerak makin melemah, Chen menyebut tidak menutup kemungkinan Tsingshan juga akan merevisi rencana produksi NPI mereka.
“Tentu saja. Seperti saya katakan, margin [industri smelter saat ini] terus menurun, jika dibandingkan dengan beberapa bulan terakhir atau akhir tahun lalu. Perusahaan [smelter] sedang berjuang dengan isu ini. Jadi ya [kami mempertimbangkan pemangkasan produksi NPI].”
Terkait dengan rencana bisnis Tsingshan di Indonesia untuk 2025, Chen menyebut raksasa baja nirkarat terbesar di dunia itu akan memantau perkembangan margin di industri smelter terlebih dahulu.
“Katakanlah jika margin terus menipis, kami akan melihat kemungkinan perluasan pemangkasan atau bahkan penutupan sementara produksi di lini-lini operasi yang kurang prospektif. Menurut saya dalam waktu yang tidak lama lagi. Saya akan memberi kabar lagi nanti,” ujarnya.
(mfd/wdh)





























