Di sisi lain, Andrew menyebut dirinya optimistis bahwa regulasi Indonesia yang makin terbuka terhadap aset kripto akan menjadikan Tanah Air sebagai poros perdagangan kripto di Asia Tenggara, layaknya kisah sukses QRIS di sektor pembayaran.
“Kita berharap di COIN ini bisa mengikuti jejak QRIS, bisa jadi pemain utama di Asia Tenggara,” tambahnya.
Dia bahkan mengungkap visi jangka panjang COIN untuk mengembangkan stablecoin berbasis rupiah yang 100% didukung pemerintah, serta membuka peluang tokenisasi aset riil (RWA) untuk mendukung transformasi ekonomi digital nasional.
Adapun data dari Chainalysis menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia dalam adopsi aset kripto, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. Dengan 14,16 juta pengguna dan total transaksi Rp650 triliun sepanjang 2024, COIN hadir bukan untuk bermain kecil melainkan menjadi bursa digital yang berpotensi sejajar dengan pemain besar Asia.
Melalui dana IPO sebesar Rp220 miliar yang dihimpun dari harga penawaran Rp100 per saham, COIN akan menyuntikkan modal ke CFX (85%) dan ICC (15%) guna memperkuat fondasi teknologi dan pengembangan produk, termasuk derivatif kripto sebagai alat lindung nilai.
(dhf)




























