Di bawah Presiden AS Donald Trump, industri dirgantara semakin terjerat dalam negosiasi tarif, di mana kesepakatan diselingi dengan pesanan jet Boeing. Spekulasi ini menjadi jelas pekan ini setelah Bloomberg melaporkan China sedang mempertimbangkan untuk memesan ratusan pesawat buatan pesaing dari Eropa, Airbus SE paling cepat bulan depan.
Menurut data Flightradar24, jet Boeing 737 Max lepas landas sekitar pukul 10 pagi waktu Seattle pada Jumat. Pesawat itu berangkat dari Bandara Internasional King County-Boeing Field, sebelah selatan pusat kota Seattle, menuju Kailua-Kona di Hawaii.
Sebelumnya, pesawat yang terdaftar sebagai N230BE telah terbang ke pusat pengiriman Boeing di Zhoushan, China, dan kembali ke Seattle saat Beijing meminta maskapai penerbangannya untuk menolak pengiriman jet buatan AS tersebut.
Pejabat pemerintah China pada 12 Mei mencabut larangan bagi maskapai penerbangan untuk menerima pengiriman jet Boeing setelah mencapai gencatan senjata dengan AS yang untuk sementara memangkas tarif masing-masing pihak.
China mengurangi bea masuk 125% atas barang-barang AS menjadi 10%, sedangkan AS setuju menurunkan tarif gabungan 145% atas sebagian besar impor China menjadi 30%.
Namun, kesepakatan yang dicapai di Jenewa berlaku selama 90 hari, membuat Boeing dan pelanggannya di China berisiko menghadapi lebih banyak gejolak perdagangan.
Ada ketidakpastian tambahan setelah Gedung Putih bergerak memberlakukan pembatasan baru terhadap teknologi AS yang digunakan bersama Commercial Aircraft Corporation of China Ltd, produsen pesawat China, dan jet yang dibuatnya untuk menantang Boeing dan Airbus.
Maskapai penerbangan China berhati-hati dalam melanjutkan impor dari AS. Aktivitas pengiriman baru-baru ini meningkat di fasilitas Boeing di Seattle, termasuk pesawat untuk Air China, Hainan Airlines, dan Xiamen Airlines, menurut Aviation.flights, situs web yang melacak pergerakan pesawat di pabrik tersebut.
Yang dipertaruhkan Boeing adalah kesempatan untuk akhirnya menghabiskan persediaan pesawat yang sudah diproduksi, langkah untuk memperbaiki kondisi keuangannya. Perselisihan ini juga menunda pesanan pesawat besar pertama dari China sejak Trump mengunjungi Beijing pada 2017.
Kedua pihak memiliki kepentingan bersama dalam menjaga perdagangan di sektor dirgantara, yang secara tradisional menghasilkan surplus perdagangan besar bagi AS.
Maskapai penerbangan China tidak bisa mengandalkan pesaing Boeing, Airbus dari Eropa, atau produsen domestik baru sepenuhnya untuk menyediakan pesawat yang mereka butuhkan untuk ekspansi.
Produsen pesawat Comac juga membutuhkan mesin, avionik, dan teknologi buatan AS lainnya untuk memproduksi jet penumpang C919-nya.
Boeing awalnya memperkirakan akan mengirim 50 pesawat lagi ke China ketika perang dagang terbaru meletus pada April. Beijing membalas tarif baru Trump dengan menaikkan tarif yang membuat pesawat buatan AS menjadi terlalu mahal bagi maskapai China.
Dengan permintaan pesawat baru yang jauh melebihi pasokan, Boeing mengindikasikan mereka bersedia mencari pembeli baru jika pesawat yang ditujukan ke China terjebak dalam perselisihan perdagangan.
Namun, dalam laporan kepada klien pada 16 Mei, analis Kristine Liwag dari Morgan Stanley menyebut, mencari pembeli baru untuk pesawat tersebut akan mengancam kemampuannya untuk memenuhi pengiriman dalam waktu dekat.
(bbn)





























