Logo Bloomberg Technoz

"Kami menargetkan penurunan emisi sebesar 231,2 juta ton CO2e pada 2025, 388 juta ton CO2e pada 2035, dan 1.043,8 juta ton CO2e pada 2050," jelas Tutuka melalui siaran pers, Rabu (29/11/2023).

“Proyek CCS/CCUS kami tersebar di seluruh daerah di Indonesia, dari barat hingga timur, dari Sumatra sampai Papua. Proyek-proyek ini sebagian besar ditargetkan onstream pada 2030," sambungnya.

Menurut catatan Kementerian ESDM, total investasi CCS/CCUS di Tanah Air berpotensi menembus US$7,97 miliar (sekitar Rp122,71 triliun).

Pertambangan minyak onshore./dok. SKK Migas

Sebelumnya, kementerian telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 2/2023 tentang Penyelenggaraan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon, serta Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon pada Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.

Beleid ini mencakup kegiatan-kegiatan a.l. penangkapan, transportasi, injeksi, penyimpanan, dan penggunaan. Untuk saat ini, Peraturan kementerian memfokuskan proyek CCS/CCUS  hanya pada kegiatan di wilayah kerja minyak dan gas bumi.

Menyusul peraturan menteri itu, pemerintah juga menyiapkan Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang CCS di luar kegiatan migas. Rancangan Perpres tersebut akan mengatur Perizinan Berusaha Untuk Izin Eksplorasi & Izin Operasi Penyimpanan Karbon.

"Sedangkan persyaratan pengangkutan CO2 lintas batas akan dinaungi dalam kerja sama pemerintah antarnegara [G2G] yang dituangkan dalam perjanjian internasional sebelum dijalankan korporasi antarnegara [B2B]," kata Tutuka. 

Belum Ada Izin

Di tempat terpisah, Wakil Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) Alue Dohong mengeklaim KLHK belum memberikan izin pelepasan lahan untuk proyek CCS/CCUS, meski investasi dari korporasi migas asing pada proyek tersebut terus berdatangan.

Dia menyebut sampai saat ini pemberian izin luasan lahan untuk CCS masih diproses di kementeriannya.

“Belum [diberikan izin], masih proses karena kebijakan CCS-nya kan baru,” ujarnya ditemui di kompleks parlemen, usai rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, awal pekan lalu.

Bagaimanapun, dia tidak menampik beberapa perusahaan swasta telah mengajukan perizinan untuk proyek CCS, seperti di wilayah Kalimantan Timur.

“Iya, tetapi belum solid, tetapi ya itu informasinya. Artinya, kami masih dalam proses pipeline. Nanti kalau [ada] update dikasih tahu ya,” ujarnya.

Train Tangguh 3, Teluk Bintuni, Papua Barat. (Dok. Kementerian ESDM)

Berikut beberapa proyek CCS/CCUS yang sedang dikembangkan di Indonesia:

1. Blok Masela

Lapangan Migas yang berada di Maluku ini rencananya bakal mengembangkan teknologi CCS, seteIah Inpex Corporation, lewat anak usahanya Inpex Masela Ltd, telah resmi menyampaikan revisi rencana pengembangan lapangan atau plan of development (PoD) ke pemerintah.

Proyek tersebut diperkirakan memakan belanja modal hingga US$1,4 miliar atau sekitar Rp21 triliun. Tidak sendirian, Inpex-yang memegang mayoritas (65%) participating interest (PI) atau hak partisipasi Blok Masela menggarap proyek ini bersama dengan dua mitranya yakni  PT Pertamina (Persero) (20%) dan  Petroliam Nasional Nasional Berhad atau Petronas (15%).

2. Lapangan Gas Arun

Proyek CCS yang berlokasi di Aceh ini telah resmi diteken oleh Kementerian ESDM dan Gubernur Aceh pada Maret tahun ini. Pengembangan fasilitas dan pengoperasian CCS di lapangan gas Arun ini dilakukan oleh PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan Odin/Carbon Aceh Pty Ltd.  

3. Sunda Asri-Basin

Wilayah cekungan yang berlokasi di bagian barat laut Jawa, atau selat Sunda ini dinilai memiliki potensi penyimpanan karbon hingga 2 gigaton. Pryoek rencananya akan dikerjakan oleh Pertamina dan ExxonMobil.

4. Kutai
 
Proyek CCS/CCUS Kutai and South Asri Basinini terletak di Provinsi Kalimantan Timur ini rencananya akan digarap oleh Pertamina dan Chevron.  Kedua perusahaan itu juga telah menghitung biaya investasi yang digelontorkan sekitar US1,1 miliar (Rp17,7 triliun). Wilayah itu disebut berpotensi memiliki penyimpanan karbon hingga 3,5 juta ton per tahun.

5. Tangguh

Proyek CCUS ini berlokasi di lapangan Tangguh, Papua Barat. Proyek digarap oleh BP Indonesia Tangguh yang menelan biaya investasi sebesar US$948 juta. Proyek selesai dan mulai berjalan diharapkan pada 2026. Proyek ini diklaim mampu menekan emisi karbon hingga 25 juta ton per tahun. Lapangan migas ini  berpotensi memiliki penyimpanan karbon sebesar 550,7 juta ton.

6. Gundih

Proyek CCUS berlokasi di Blora, Jawa Timur dioperasikan oleh Pertamina CoE ITB, dan J-Power. Proyek ini memiliki potensi penyimpanan karbon CO2 hingga 3 juta ton dalam 10 tahun.

Ditargetkan onstream pada 2030, proyek ini memakan nilai investasi sebesar US$105 juta.

Sejatinya, Kementerian ESDM mengklaim hingga saat ini tengah membidik total 15 proyek CCS/CCUS. Seluruhnya ditargetkan rampung dan onstream pada 2030. Seluruh royek itu  memakan nilai investasi sekitar US7,97miliar atau sekitar Rp123,6 triliun.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan, ada 10 Provinsi yang berpotensi menjadi tempat proyek penyimpanan karbon tersebut, dengan perincian:

  • Papua Barat, dengan otensi penyimpanan 550,7 juta ton CO2
  • Jawa Timur dengan penyimpanan 110 juta ton
  • Maluku dengan potensi penyimpanan 70 juta ton
  • Jawa Barat dengan potensi penyimpanan 401,9 juta ton CO2 depleted oil gas dan 2.029 juta CO2 di lapisan saline aquifier
  • Sumatra Tengah dengan potensi penyimpanan 229 juta ton CO2
  • Sumatra Selatan dengan potensi penyimpanan 229 juta ton CO2 depleted oil gas dan 7.650 juta CO2 di lapisan saline aquifier
  • Kalimantan Timur dengan potensi penyimpanan 139,5 juta ton CO2 depleted oil gas
  • Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dengan potensi penyimpanan 10 juta ton CO2, dan
  • Sulawesi Tengah dengan potensi penyimpanan 19 juta ton CO2.

-- Dengan asistensi Sultan Ibnu Affan

(wdh)

No more pages