Tri menambahkan bahwa kuota produksi batu bara dalam RKAB 2026 hasil revisi bakal di sekitar 700 juta metrik ton. Ihwal potensi kuota produksi batu bara 2027 lebih rendah dari besaran tersebut, Tri enggan berkomentar.
"Ya 700 [juta mt] lebih sedikit lah [kuota produksi batu bara RKAB 2026 hasil revisi]," tutur Tri.
Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen Minerba Kementerian ESDM Asep Kurnia menyatakan kementerian bakal tetap mengelola kuota produksi batu bara dalam RKAB 2027.
Alasannya, kata dia, pengelolaan kuota produksi dilakukan agar harga batu bara tetap tinggi seperti usai memangkas kuota produksi dalam RKAB 2026.
"RKAB kami sudah meminta Bapak-Ibu semua terkait dengan perencanaan produksi sudah terima mungkin Bapak-Ibu sudah menyampaikan datanya ke kami dan saat ini sedang kita evaluasi tentunya terkait dengan penetapan produksi tersebut," kata Asep dalam Minerba Convex 2026, Selasa (3/11/2026).
"Karena arahannya tetap menjaga harga yang tetap terkontrol saat ini mungkin Bapak-Ibu semua merasakan bahwa harga cukup baik dari sisi batu bara dan itu tentunya sangat berhubungan dengan yang kalau disampaikan ke Pak Menteri adalah supaya kita tetap mengontrol terkait dengan produksi tersebut untuk me-manage harga," tegasnya.
Asep juga menargetkan hasil evaluasi RKAB 2027 yang diajukan dapat segera terbit usai pengajuan ditutup pada 15 November 2026. Dia berharap kementerian dapat segera mengumumkan kuota produksi batu bara 2026.
"Dalam aspek penilaian RKAB tersebut, itu akan disampaikan bagaimana perencanaan produksi Bapak-Ibu semua dan perencanaan pemasaran yang untuk domestik untuk DMO dan juga untuk pemasaran lainnya," tutur Asep.
Untuk diketahui, pengajuan RKAB 2027 telah resmi dibuka mulai 1 Oktober 2026. Penambang memiliki waktu mengajukan dokumen ke Kementerian ESDM paling lambat 15 November 2026.
Kementerian ESDM memperkirakan produksi batu bara mencapai 720 juta metrik ton hingga akhir 2026.
Pada awal 2026, padahal, Kementerian ESDM mengatakan kuota produksi batu bara dalam RKAB 2026 di sekitar 600 juta metrik ton.
(azr/ros)



























