Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps. Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (6/11/2026).

  1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menopang 16,75 poin
  2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menopang 8,99 poin
  3. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menopang 7,04 poin
  4. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menopang 6,75 poin
  5. PT Astra International Tbk (ASII) menopang 3,52 poin
  6. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menopang 3,3 poin
  7. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menopang 1,85 poin
  8. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menopang 1,71 poin
  9. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menopang 1,31 poin
  10. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menopang 1,14 poin

IHSG ditutup menguat 0,4% di posisi 5.050 pada penutupan perdagangan Jumat (6/11/2026), setelah hampir sepanjang perdagangan Indeks Komposit tergelincir di teritori negatif. Mengutip analis Phintraco Sekuritas, harga minyak yang kembali melemah di bawah level US$100/barel berkat harapan penyelesaian konflik AS-Iran yang lebih cepat setelah Partai Demokrat memenangkan pemilu midterm, jadi sentimen positif bagi pasar.

Iran dilaporkan tengah meninjau proposal yang diajukan oleh pihak mediator terkait program nuklir, namun tetap menginginkan pencabutan blockade Angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pelonggaran sanksi dan melepaskan asetnya yang dibekukan. 

Utamanya, data cadangan devisa berhasil menguat di level US$146,8 miliar pada Oktober 2026 dari US$146,3 miliar. Indeks Harga Rumah tercatat menguat 0,58% secara tahunan pada 3Q26, melambat dari 0,69% secara tahunan pada 2Q26. 

Secara teknikal, terjadi penyempitan histogram MACD IHSG dan berpotensi membentuk golden cross. Stochastic RSI membentuk reversal di area pivot. Sehingga diprediksi IHSG menguji level 5.100–5.200 pada perdagangan minggu depan. 

Adapun Bank Indonesia (BI) melaporkan, posisi cadangan devisa Indonesia per Oktober 2026 berhasil tercatat sebesar US$146,8 miliar, di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih terjadi, hingga menembus level psikologis Rp18.000/US$. 

Berdasarkan data BI, posisi cadangan devisa Oktober meningkat dibanding posisi pada September 2026 yang sebesar US$146,3 miliar, tertinggi sejak Maret 2026.

Posisi cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.

Posisi cadangan devisa pada Oktober 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

(fad)

No more pages