Di Korea Selatan, indeks KOSPI ambrol hampir 9%. Pasar saham Negeri Ginseng pun harus masuk pit stop, perdagangan dihentikan sementara.
Bursa saham Asia mengikuti jejak Wall Street yang jatuh. Dini hari tadi waktu Indonesia, indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite ambrol masing-masing 3,44%, 4,36%, dan 5,52%.
Penyebabnya masih aksi jual terhadap saham-saham teknologi, terutama yang memiliki eksposur pengembangan kecerdasan buatan (AI). Indeks saham teknologi di New York ambrol 12%.
“Sulit untuk menyatakan bahwa ini adalah akhir dari reli saham AI. Kuncinya adalah apakah penurunan ini masih terbatas atau kemudian berdampak ke kinerja perusahaan. Masih ada kemungkinan akan ada rebound dalam jangka pendek setelah sentimen negatif berlalu,” kata Kazuki Sawamura, Strategist di Shinkin Asset Management yang berbasis di Tokyo (Jepang), seperti dikutip dari Bloomberg News.
Selain itu, investor juga rasanya memasang mode wait and see. Malam ini waktu Indonesia, akan ada rilis data ketenagakerjaan AS periode Oktober.
Bloomberg Economics memperkirakan perekonomian Negeri Paman Sam menciptakan 26.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payrolls) bulan lalu. Sedangkan tingkat pengangguran diperkirakan stabil di kisaran 4,18%.
Anna Wong dari Bloomberg Economics menilai, pasar tenaga kerja yang mendingin sepertinya tidak akan membuat bank sentral Federal Reserve ragu untuk menaikkan suku bunga acuan. Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 4-4,25% adalah 68,4%.
(aji)




























