Sembilan hari sebelum serangan peretasan tersebut, hacker menyusup ke laptop milik karyawan. Tujuannya menginfiltrasi komputer dua pegawai bidang software lainnya yang bekerja pada dompet digital Binance.
Hacker kemudian menggunakan “alat AI internal” untuk mendapatkan akses, demikian menurut laporan Binance, tanpa merinci apa alat tersebut atau bagaimana alat itu digunakan untuk mengendalikan laptop para karyawan.
Salah satu dari dua insinyur tersebut pada bulan Juni secara tidak sengaja mengunduh software berbahaya saat mencoba menginstal apa yang disebut Binance sebagai “tool coding AI populer.”
Dengan melakukan hal tersebut, mereka telah membocorkan peran mereka, serta peran beberapa rekan kerja yang mengerjakan dompet Binance, kepada para peretas, menurut laporan tersebut.
Pengungkapan baru mengenai bagaimana peretas berhasil menyedot miliaran AS dari Binance ini muncul saat bursa tersebut — dan industri kripto — berusaha pulih dari peretasan terbesar dalam sejarah pencurian siber.
Insiden ini memperparah krisis keamanan yang semakin memuncak di sektor yang sudah dilanda gelombang serangan siber.AI turut memperburuk ancaman ini, memberikan para penjahat alat baru untuk menemukan kelemahan dan menipu karyawan, serta meningkatkan risiko bagi platform yang mengamankan aset digital senilai miliaran dolar AS.
Meski demikian, teknik yang digunakan peretas untuk menyusup ke Binance merupakan strategi yang sudah teruji dan umum digunakan oleh Korea Utara, menurut lembaga penegak hukum dan peneliti keamanan. Bahkan, perusahaan keamanan siber Palo Alto Networks membuat istilah “Contagious Interview” untuk taktik wawancara kerja tersebut.
Pada tahun 2022, perethacker as Korea Utara menggunakan tawaran pekerjaan palsu untuk menipu salah seorang insinyur di game berbasis kripto Axie Infinity dan berhasil melakukan pencurian US$590 juta.
Tiga tahun kemudian, hacker yang diduga terafiliasi dengan Korut membobol bursa kripto Bybit dan mencuri US$1,5 miliar, yang sebelumnya merupakan pencurian aset digital terbesar dalam sejarah, menurut perusahaan analisis kripto.
Beberapa jam setelah peretasan tersebut, yang pertama kali dilaporkan pada 29 Oktober, Binance awalnya menyatakan bahwa para pelaku kejahatan siber mungkin telah membobol laptop seorang pegawai, yang memungkinkan para pencuri menarik kripto dari bursa tersebut.
Dalam unggahan berikutnya, bursa tersebut menyatakan bahwa serangan tersebut “kompleks” dan perusahaan telah “menemukan titik-titik pelanggaran tambahan,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Tak lama setelah serangan tersebut, para trader, pakar keamanan siber, dan penerbit token bergegas menanggapi dampaknya. Raksasa stablecoin Tether dan Circle Internet Group Inc., serta entitas lain, dengan cepat membekukan — atau mencegah peretas memindahkan — dana senilai hampir US$3 miliar.
Perusahaan analitik berlomba-lomba melacak aliran kripto, dan akhirnya menyimpulkan bahwa serangan tersebut berasal dari Korea Utara, sebuah tuduhan yang dibantah oleh negara tersebut. Beberapa pedagang memanfaatkan gejolak pasar tersebut.
Selama masa sulit tersebut, Binance berusaha meyakinkan para penggunanya dengan menyatakan bahwa mereka akan menanggung biaya finansial yang timbul. Meskipun demikian, bursa tersebut menghentikan sementara penarikan dana selama hampir dua hari setelah insiden tersebut.
Pada Minggu dini hari kemarin Binance secara bertahap mengizinkan pengguna untuk menarik dana. Awalnya, perusahaan mengalami arus keluar dana sebesar miliaran, namun situasinya tampaknya telah stabil dan pada hari Selasa, mereka melaporkan bahwa setoran per jam telah mulai melebihi penarikan per jam.
Binance juga menyatakan bahwa mereka hampir sepenuhnya mengganti aset kripto yang dicuri oleh hacker, dengan menggunakan kombinasi dana dari kas perusahaan serta instrumen dana asuransi.
Binance juga bekerja sama dengan penegak hukum AS, termasuk Biro Investigasi Federal (FBI), Dinas Rahasia AS, dan Departemen Kehakiman. FBI, yang segera turun tangan membantu Binance setelah serangan tersebut, juga menyimpulkan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh peretas asal Korea Utara.
Pada tahun 2026, Binance mengidentifikasi dan menggagalkan 57 upaya serangan dari peretas yang terkait dengan Korea Utara, disampaikan bursa tersebut dalam laporannya yang merinci pencurian siber tersebut.
Binance juga menyatakan telah menerapkan berbagai langkah mitigasi setelah serangan siber tersebut, termasuk membangun kembali infrastruktur kripto yang terdampak, mengembangkan ulang alat AI internal, serta meningkatkan pemindaian keamanan dan detektor berbasis AI.
Meskipun peretasan ini mencatat sejarah, dampaknya terhadap pasar tetap terbatas. Awalnya, harga Bitcoin turun lebih dari 4% setelah insiden tersebut hingga mendekati US$76.000, namun mata uang kripto terbesar di dunia ini telah memulihkan sebagian kerugiannya, dan diperdagangkan di sekitar US$77.600 pada hari Selasa.
(red)
































