Logo Bloomberg Technoz

“Angka ini adalah 40% dari kebutuhan domestik nasional untuk gas. Jadi sama dengan the biggest gas buyer. Nah, 40% kalau produksi nasional itu 70% domestik, 30% itu sekitar 28% dari produksi nasional,” tutur Rakhmad.

Sekadar informasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengklaim pasokan LNG untuk kebutuhan domestik dan ekspor dalam kondisi yang aman pada semester II-2026.

“Aman semuanya. Enggak ada yang dipotong untuk ekspor. Ekspor sudah oke semua, dalam negeri juga oke,” kata Bahlil usai peresmian Mini LNG Plant di Tuban, Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).

Sebelumnya, Bahlil sempat berjanji kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di industri hulu migas bahwa dia tidak akan mengalihkan kuota ekspor gas pada tahun ini, sebagaimana yang sempat dilakukan pada 2025.

Bahlil menyatakan kuota ekspor gas tahun ini tidak bakal dialihkan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gas domestik. Dia pun mengklaim sudah menyetujui seluruh kuota ekspor gas bumi tahun ini.

“Saya janji kepada Bapak Ibu semua, pada 2025 itu kejadian, pengalaman yang bahwa satu tahun pemerintahan Bapak Presiden Prabowo, tetapi 2026 tidak akan ada lagi pemotongan kuota ekspor untuk market ataupun yang sudah dikontrakan ke luar negeri,” kata Bahlil dalam IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).

Bahlil mengungkapkan Kementerian ESDM bakal mencari cara agar pasokan gas domestik dapat terpenuhi tanpa kembali mengalihkan kuota ekspor gas.

Sepanjang 2025, berdasarkan data Kementerian ESDM dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), total distribusi pasokan gas bumi domestik sepanjang 2025 rata-rata mencapai 5.597 BBtud.

Pemanfaatan gas tersebut mayoritas disalurkan ke sektor prioritas, yakni industri manufaktur dan pembangkitan listrik nasional.

Adapun, sektor industri penerima fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang mencakup 225 perusahaan memperoleh alokasi gas bumi sebesar 693,31 BBtud sepanjang 2025.

Sementara itu, konsumsi pasokan gas untuk sektor industri non-HGBT atau kategori komersial reguler sepanjang 2025 berada pada kisaran 1.073,69 BBtud hingga 1.200 BBtud.

Pemenuhan gas bagi manufaktur skala menengah hingga besar ini, di luar penerima insentif khusus, disalurkan melalui jaringan distribusi pipa PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) atau PGN maupun penyalur swasta lainnya dengan harga komersial pasar.

Untuk sektor ketenagalistrikan, kebutuhan pasokan gas bumi untuk pembangkit listrik nasional yang dikelola oleh PLN dan penyedia listrik swasta tercatat sebesar 724 BBtud melalui pasokan pipa.

Apabila memperhitungkan alokasi LNG domestik yang lebih dari 90%-nya dimanfaatkan untuk pembangkit ketenagalistrikan, total realisasi kebutuhan gas untuk sektor listrik mencapai kisaran 1.456 BBtud.

(wdh)

No more pages