“Artinya dari desain pembangkit kita itu sebenarnya sebagian besar, sedikit ya proporsinya, 50% sampai 60% itu adalah medium rank coal,” tutur Rakhmad.
Cadangan Batu Bara
Dia mengungkapkan cadangan batu bara kualitas menengah di Indonesia mencapai sekitar 4,54 miliar mt; kualitas tinggi 3,4 miliar mt; dan sisanya didominasi oleh kualitas rendah.
Hal tersebut, lanjut Rakhmad, menjadi tantangan bagi pemenuhan pasokan batu bara pembangkit, sebab cadangan batu bara kualitas rendah justru lebih besar dibandingkan dengan kualitas menengah yang dibutuhkan pembangkit.
“Jadi apa yang kita lakukan? Kita coba sesuaikan upgrade ya, misalnya PLTU kita coba yang sebelumnya permintaan itu di kalori yang cukup tinggi, ini kita coba turunkan,” katanya.
Kebutuhan LNG
Dalam kesempatan itu, Rakhmad menyatakan perseroan membutuhkan sekitar 108 kargo gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) pada 2026 untuk operasional pembangkit. Untuk 2027, kebutuhannya diprediksi meningkat menjadi sekitar 120 kargo LNG.
“Karena produksi gas pipa dari lapangan yang cukup tua, jadi dia menurun. Ini kita gantikan dengan gas alam cair. Tahun ini 108 kargo. Tahun depan 120 kargo insyaallah,” tegas Rakhmad.
Kementerian ESDM sebelumnya mencatat total kebutuhan batu bara PLN mencapai 154 juta mt per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, pemerintah telah memberikan penugasan atau DMO kepada perusahaan-perusahaan batu bara sebesar kurang lebih 190 juta mt.
Bahkan, Kementerian ESDM telah menambah penugasan DMO untuk memenuhi stok batu bara kualitas sedang pembangkit PLN dan swasta, sehingga totalnya menjadi 212 juta mt.
Lebih lanjut, Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang Januari—September 2026 mencapai sekitar 514,98 juta mt.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mienral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, dari total produksi 514,98 juta mt tersebut, sebanyak 343,08 mt direalisasikan untuk pasar ekspor.
Sementara itu, sebesar 171,9 juta mt direalisasikan untuk kebutuhan batu bara domestik atau DMO.
Kementerian ESDM mencatat bauran EBT dalam bauran energi nasional pada kuartal I-2026 mencapai 18,3%, masih lebih rendah dibandingkan dengan batu bara dengan porsi 33,44%, minyak mentah sebesar 31,79%, dan gas bumi sebesar 16,47%.
Dari total bauran EBT sebesar 18,3%, sekitar 9,75% dimanfaatkan untuk sektor kelistrikan, sedangkan 8,55% dimanfaatkan untuk sektor nonlistrik.
Untuk sektor kelistrikan, sekitar 3,59% berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA), 3,27% berasal dari pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBio), dan 1,91% berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
Selanjutnya, sekitar 0,51% berasal dari PLTS, sekitar 0,06% berasal dari PLTB, serta 0,41% berasal dari pemanfaatan EBT lainnya.
Sementara itu, pada sektor nonlistrik, sekitar 5,38% berasal dari pemanfaatan fatty acid methyl ester (FAME) atau biodiesel sebagai campuran B50.
Kemudian, sekitar 2,91% berasal dari pemanfaatan biomassa, sedangkan sisanya sebesar 0,26% berasal dari pemanfaatan EBT nonlistrik lainnya.
(wdh)




























