Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator senior dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan negaranya telah "memberikan respons yang kuat dan rasional kepada pihak Amerika", menurut laporan kantor berita Iran, Fars. "Kini bola berada di tangan Amerika untuk mencegah perang," tambahnya, sembari menegaskan bahwa Iran siap melancarkan pembalasan sengit atas setiap serangan AS-Israel.
Kepala keamanan nasional Iran, Mohsen Rezaee, mengatakan melalui platform X bahwa respons AS terhadap tuntutan Iran sejauh ini "tidak memuaskan".
Upaya diplomatik terbaru ini menyusul meningkatnya ketegangan selama beberapa pekan terakhir. Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz, sementara Trump memberi sinyal bahwa ia dapat memerintahkan gelombang baru serangan udara terhadap Republik Islam tersebut setelah pemilihan paruh waktu pada Selasa. Dalam pemilu itu, Partai Republik yang dipimpinnya diperkirakan akan kehilangan banyak kursi di Kongres kepada Partai Demokrat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam beberapa pekan terakhir terus menggaungkan perlunya pergantian rezim di Iran. Axios melaporkan pada Minggu bahwa Netanyahu mendesak Trump untuk menyerang Iran setelah pemungutan suara di AS.
Sejumlah media Amerika melaporkan bahwa serangan AS pada malam sebelumnya menyasar sejumlah target di Pulau Qeshm, Iran, yang berada di dalam kawasan Selat Hormuz.
Menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat AS tanpa menyebutkan nama, serangan tersebut merupakan operasi militer terbatas yang bertujuan membantu kapal-kapal melintasi jalur perairan itu dengan aman. Setidaknya dalam satu insiden, serangan dilakukan sebagai respons atas tembakan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap sebuah jet tempur AS.
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump mengatakan AS telah menyerang fasilitas antipesawat Iran "dengan sangat baik", tanpa menjelaskan apakah fasilitas tersebut berada di Pulau Qeshm. Ketika ditanya mengenai rencananya terkait perang setelah pemilihan paruh waktu, ia mengatakan AS tidak ingin "membunuh banyak orang", tetapi "jika memang harus, kami akan melakukannya".
Harga minyak melonjak selama sebulan terakhir akibat meningkatnya ketegangan, yang semakin merugikan posisi politik Trump di mata masyarakat Amerika. Namun, harga minyak berbalik turun tajam pekan ini setelah muncul tanda-tanda bahwa Gedung Putih bersedia memberikan lebih banyak waktu bagi upaya penyelesaian melalui diplomasi.
Harga minyak mentah Brent turun menjadi sedikit di atas US$102 per barel pada Selasa, melemah 2,5 persen dalam sehari. Angka tersebut jauh di bawah penutupan perdagangan pekan lalu yang hampir mencapai US$118 per barel.
"Mereka ingin mencapai kesepakatan, dan itu bisa saja terjadi," kata Trump kepada wartawan di Washington dalam pernyataan penutupnya menjelang pemilihan paruh waktu pada Senin. Ia menambahkan bahwa harga minyak turun karena "tampaknya semuanya berjalan sangat baik menuju kesepakatan".
Ketika seorang wartawan berteriak menanyakan apakah ia akan kembali melancarkan serangan militer setelah pemilu, Trump menggerakkan bibirnya untuk menjawab, "Tidak."
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintahannya telah mendapat kewenangan lebih besar dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk mengupayakan perundingan perdamaian. Menurut unggahan di Telegram, hal ini dapat mencakup pembahasan sejumlah isu yang sebelumnya ia anggap "tidak dapat dinegosiasikan".
Trump berulang kali mengatakan akan segera menyelesaikan konflik Iran, baik melalui kesepakatan maupun dengan kembali melancarkan serangan besar-besaran. Perang dimulai pada akhir Februari ketika AS dan Israel mulai membombardir sejumlah target di Iran serta membunuh pejabat senior dalam serangkaian serangan, termasuk Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei.
Pada awalnya, pejabat AS memperkirakan perang akan berlangsung tidak lebih dari empat hingga enam pekan. Namun, Trump semakin frustrasi menghadapi ketahanan Iran. Teheran memicu kekacauan di kawasan Teluk Persia melalui serangan balasan terhadap sekutu AS, seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar. Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz untuk sementara waktu dengan menyerang kapal-kapal yang melintas, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dan gas alam cair.
Kenaikan biaya bahan bakar, dengan harga solar di AS mencapai rekor tertinggi dan harga bensin melampaui rata-rata US$4 per galon, turut membuat masyarakat Amerika berbalik menentang konflik tersebut.
Setelah gencatan senjata pada awal April, kedua pihak berulang kali terlibat bentrokan, meskipun intensitasnya jauh lebih rendah dibandingkan fase pertama perang. Keduanya menyepakati apa yang disebut sebagai nota kesepahaman pada Juni yang dimaksudkan sebagai langkah menuju perdamaian resmi. Namun, kesepakatan itu runtuh dalam waktu sekitar dua pekan.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pada Senin bahwa telah berlangsung "sejumlah pembicaraan yang baik dengan pihak Iran".
"Presiden dan saya sama-sama merasa cukup optimistis dengan peluang untuk mencapai penyelesaian melalui negosiasi," katanya kepada wartawan.
Namun, perbedaan besar tampaknya masih memisahkan kedua pihak yang berperang. Teheran menginginkan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya dicabut, serta jaminan dari Washington untuk melonggarkan sanksi dan membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan.
Sementara itu, Washington menuntut konsesi terkait program nuklir Iran.
"Konsultasi dan pembahasan telah berlangsung dengan sangat intensif," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat berkunjung ke Turkmenistan. "Kami telah menyampaikan persyaratan dan rencana kami, dan semuanya bergantung pada rasionalitas politik Washington. Jika mereka berniat melakukan penipuan dan operasi militer, mereka akan menghadapi respons yang lebih keras dan lebih besar daripada sebelumnya."
Menurut Ali Vaez, Direktur Iran Project di International Crisis Group, kunci strategi Iran adalah mencapai kesepakatan yang menjamin tidak akan ada serangan lanjutan dari AS maupun Israel.
"Teheran bersedia berunding untuk mengakhiri perang, tetapi mereka menginginkan lebih dari sekadar jeda sebelum permusuhan kembali terjadi," katanya. "Iran menginginkan perdamaian yang bertahan lama dan memulihkan daya tangkalnya."
Khamenei telah memerintahkan para komandan militer seniornya untuk bersiap menghadapi konfrontasi baru dengan AS dan Israel serta memperluas opsi pembalasan yang dimiliki Teheran.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran negara-negara Arab di kawasan Teluk bahwa Iran yang kini lebih siap dapat melancarkan perang yang jauh lebih merusak di seluruh kawasan, sehingga negara-negara tersebut harus menanggung dampak kehancurannya.
(bbn)





























