Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, animo korporasi domestik untuk menghimpun dana melalui pasar modal juga masih tinggi. Hingga Oktober 2026, nilai penghimpunan dana tersebut tercatat mencapai Rp205,77 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari tujuh penawaran umum perdana saham (IPO), 20 penawaran umum terbatas, 11 penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS), serta 135 penawaran umum berkelanjutan (PUB) EBUS.

“Juga ini kita melihat di pipeline juga masih banyak perusahaan yang ingin melakukan IPO di pasar modal kita. Ini kalau kita lihat masih ada 25 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif sekitar 26 triliun rupiah,” kata Kiki.

Sementara itu, OJK memperkirakan realisasi penghimpunan dana di pasar modal sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar Rp250 triliun hingga akhir tahun. Meski demikian, pencapaian target tersebut masih dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Lanjutkan Reformasi Pasar Modal

Di sisi lain, Kiki menegaskan OJK terus melanjutkan reformasi pasar modal Indonesia. Menurutnya, reformasi tersebut tidak semata-mata didorong oleh masukan dari penyedia indeks global tertentu, tetapi merupakan bagian dari komitmen OJK untuk memperbaiki pasar modal secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, sejumlah aspek yang menjadi fokus reformasi antara lain transparansi, likuiditas, serta granularitas data. Namun, aspek penegakan aturan atau enforcement juga menjadi salah satu fokus yang kini diperkuat.

Kiki mencontohkan langkah OJK yang pada 16 Oktober 2026 mengumumkan pemberian sanksi terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Menurutnya, besaran sanksi tersebut juga tergolong terbesar dibandingkan dengan pasar modal di negara-negara kawasan.

Ke depan, OJK akan terus memperkuat penegakan aturan, termasuk mempertimbangkan sanksi yang lebih berat dan tidak hanya terbatas pada denda.

“Jadi jangan main-main di pasar modal kita, jangan melakukan manipulasi, jangan melakukan coordinated trading dan selanjutnya kita juga untuk proses untuk lebih severe daripada sekadar sanksi denda seperti itu,” ujar Kiki.

IHSG ditutup melemah 3,78% di posisi 4.904,28 pada Selasa (3/11/2026), amblasnya saham–saham big caps jadi sebab, terutama saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Sepanjang hari IHSG terus–menerus terjerembab di tren pelemahan dengan penurunan yang bertambah dalam. Rentang perdagangan terjadi pada area level 5.143,58 sampai dengan level terendahnya menyentuh 4.895,59.

Adapun tren bearish IHSG disebabkan oleh kecemasan investor menyikapi evaluasi MSCI pada 11 November, hasil pengumuman evaluasi amat berpengaruh terhadap capital outflow yang dinilai bakal terus berlanjut.

(ell)

No more pages