Logo Bloomberg Technoz

Di pasar saham, tekanan jual asing memang jauh lebih besar ketimbang di pasar aset pendapatan tetap. Investor asing mencatat net sell Rp17,87 triliun selama periode 16-30 Oktober. Aksi jual itu menggenapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  16,7%, dari awal bulan 6.062,89 dan berakhir menutup perdagangan Oktober tersisa 5.057,05.

Lantas, siapa saja investor asing mana yang mengakumulasi SBN RI?

Segmen Nonresiden

Jika dirinci berdasarkan segmentasinya, pemerintah dan bank sentral asing yang justru aktif mengakumulasi SBN. Posisi kepemilikan segmen ini naik Rp8.09 triliun atau sekitar 2,89%, dari posisi awal bulan Rp280,29 triliun menjadi Rp288,38 triliun di akhir Oktober.

Sebaliknya, kelompok nonresiden lainnya, yang mencakup private bank, fund manager, perusahaan sekuritas, asuransi, dan dana pensiun hanya menambah kepemilikan sekitar Rp210 miliar sepanjang bulan.

Bahkan, jika dibandingkan dengan posisi 15 Oktober, kelompok ini mengurangi eksposur sekitar Rp9,48 triliun atau 1,49%. Dengan begitu, kenaikan kepemilikan asing secara agregat sebenarnya lebih banyak ditopang oleh pemerintah dan bank sentral asing, bukan akumulasi besar-besaran oleh investor portofolio swasta.

Struktur Pemilik & Portofolio Aset

Sepannjang Oktober posisi asing atas SUN bertambah Rp6,34 triliun menjadi Rp897,25 triliun. Begitu juga dengan kepemilikan asing atas Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) naik Rp1,96 triliun jadi Rp19,75 triliun.

Tapi, setelah 15 Oktober, posisi asing terlihat berkurang di SUN sebanyak Rp5,83 triliun (-0,65%), sementara SBSN masih mencatat penambahan sekitar Rp560 miliar (+2,92%).

Di sisi lain, perbankan domestik terlihat mengambil peran lebih besar dalam menopang permintaan SBN. Kepemilikan bank terlihat meningkat Rp84,12 triliun atau sekitar 6,96% sepanjang Oktober, dari Rp1.209,49 triliun menjadi Rp1.293,61 triliun. Peningkatan ini  berasal dari bank konvensional yang menambah kepemilikan Rp81,95 triliun. Porsi perbankan dalam total kepemilikan SBN pun meningkat dari 17,25% menjadi 18,34%.

Ketidakpastian yang meningkat di pasar saham membawa investor masuk ke SBN sebagai alternatif pilihan. Terlebih, adanya ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan mengerek suku bunga acuan lantaran rupiah melemah 1,42% sepanjang Oktober.

(red)

No more pages