Logo Bloomberg Technoz

Dia memperkirakan penambahan kapasitas itu membutuhkan sekitar 4,5 juta mt alumina per tahun atau setara dengan kebutuhan tambahan 16 juta hingga 18 juta mt bijih bauksit.

“Dengan mengombinasikan masa transisi peningkatan kapasitas hingga 2030 dan percepatan eksploitasi pasca-2030, cadangan terbukti bauksit Indonesia sebesar 1 miliar mt diproyeksikan akan habis total dalam kurun sekitar 14 hingga 16 tahun terhitung dari sekarang atau sekitar 2040 hingga 2042,” kata Wahyu kepada Bloomberg Technoz, Selasa (3/11/2026).

Kebutuhan Bijih

Lebih lanjut, Wahyu mengelaborasi kebutuhan bijih bauksit diperkirakan terus meningkat apabila ekspansi kapasitas pengolahan alumina mencapai 32,5 juta mt pada 2030, sebagaimana proyeksi Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA).

Dengan kapasitas tersebut, konsumsi bijih bauksit nasional diperkirakan mencapai sekitar 65 juta mt per tahun.

Perhitungan tersebut menggunakan rasio konversi sekitar 3,5 hingga 4 mt bijih bauksit untuk menghasilkan 1 mt alumina. Selanjutnya, dibutuhkan sekitar 2 mt alumina untuk memproduksi 1 mt aluminium.

Wahyu menyatakan dengan asumsi konsumsi bijih bauksit meningkat secara bertahap hingga 65 juta mt per tahun pada 2030, sekitar 250 juta hingga 300 juta mt cadangan diperkirakan telah terserap selama masa transisi tersebut.

Dia menjelaskan sisa cadangan sekitar 700 juta hingga 750 juta mt setelah 2030 hanya mampu menopang kebutuhan industri selama sekitar 10 hingga 11 tahun apabila konsumsi bertahan pada 65 juta mt per tahun.

“Tanpa adanya penemuan cadangan terbukti baru melalui kegiatan eksplorasi mendalam, peningkatan rasio daur ulang aluminium, atau optimasi efisiensi konversi bahan baku pada pabrik pengolahan, Indonesia berisiko mengalami defisit bijih bauksit domestik dan berpotensi berubah menjadi importir bijih bauksit dalam dua dekade ke depan,” tegas Wahyu.

Bak elektrolisis di fasilitas elektrolisis pabrik peleburan aluminium Khakas, yang dioperasikan oleh United Co. Rusal di Rusia./Bloomberg-Andrey R

Sebagai informasi, Morgan Stanley memperkirakan Indonesia akan menambah kapasitas smelter aluminium tahunan sebanyak 866.000 mt  pada 2026, serta tambahan 1,2 juta hingga 1,3 juta mt lagi pada 2027.

Kepala Riset Material China Morgan Stanley Rachel Zhang menyebut potensi tambahan kapasitas smelter tersebut terjadi lantaran produsen aluminium China tengah berlomba-lomba melakukan ekspansi ke luar negeri akibat pembatasan kapasitas smelter domestik maksimal 45 juta mt per tahun.

Salah satu proyek smelter aluminium China di Indonesia ialah fasilitas milik Shandong Nanshan Aluminium di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi, dengan rencana ekspansi yang akan melipatgandakan kapasitasnya.

Di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, Xinfa Group dan Tsingshan Holding Group tengah mengoperasikan fasilitas dengan kapasitas 600.000 mt per tahun.

Tsingshan juga sedang mengerjakan fasilitas baru di pusat smelter yang sudah ada di Weda Bay, Maluku Utara, dengan kapasitas 800.000 mt per tahun.

"Pada akhirnya, semua bergantung pada aspek ekonomi. Sebagian besar perusahaan ini adalah milik swasta dan berorientasi pada keuntungan," ujar Zhang, seperti disitir dari Reuters, Rabu (28/10/2026).

Di sisi lain, Shanghai Metals Market (SMM) memprediksi Indonesia bakal menyumbang sekitar 66% tambahan kapasitas baru smelter aluminium di luar China pada 2026—2027.

Pada periode tersebut, tambahan kapasitas smelter aluminium diestimasikan mencapai 3,5 juta mt dari Indonesia, dengan total tambahan di luar China sebanyak 5,34 juta mt.

Berdasarkan riset SMM, hingga saat ini sudah terdapat sekitar 1,48 juta mt tambahan kapasitas smelter aluminium yang beroperasi pada 2026, sementara sekitar 420.000 mt diperkirakan beroperasi pada kuartal IV-2026.

SMM memprediksi tambahan kapasitas produksi smelter aluminium di Indonesia pada 2027 bakal meningkat menjadi sekitar 2,25 juta mt.

Sejak awal Juli, terdapat enam proyek baru yang menambah usulan kapasitas sebesar 2,66 juta mt, sehingga total kapasitas proyek yang diusulkan mencapai 23,5 juta mt.

Kendati begitu, SMM mencermati bahwa sebagian besar proyek baru tersebut masih berada pada tahap awal sehingga prospek realisasinya masih perlu diperhatikan.

Di sisi lain, sejumlah proyek yang sebelumnya dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026—2027 menghadapi penundaan akibat pembangunan yang lebih lambat dari perkiraan dan berbagai faktor lainnya.

SMM mengemukakan kondisi tersebut membuat proyeksi tambahan kapasitas produksi smelter aluminium yang akan mulai beroperasi pada 2026 direvisi turun dari 2,4 juta mt menjadi sekitar 1,9 juta mt.

Adapun, berdasarkan data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida, kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina saat ini mencapai 9 juta mt per tahun. Pabrik pengolahan tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta mt bauksit per tahun.

Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, dengan sasaran kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta mt.

Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta mt per tahun.

Untuk aluminium, terdapat empat smelter yang sudah beroperasi dengan produksi 1,1 juta mt dari total kapasitas produksi 1,98 juta mt. Smelter tersebut membutuhkan sekitar 2,2 juta mt alumina per tahun.

(azr/wdh)

No more pages