Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencatatkan surplus US$10,61 miliar. Angka tersebut berasal dari surplus nonmigas sebesar US$34,21 miliar yang mampu menutupi defisit migas sebesar US$23,6 miliar.
Dari sisi perdagangan, nilai ekspor Indonesia pada Januari-September 2026 mencapai US$221,23 miliar atau tumbuh 5,58% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sementara itu, impor meningkat 19,67% menjadi US$210,63 miliar. Airlangga menjelaskan kenaikan impor terutama didorong oleh peningkatan kebutuhan bahan baku dan barang penolong serta barang modal atau capital goods.
Impor nonmigas tercatat sebesar US$178,06 miliar, meningkat US$16,92 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Airlangga menyebut kenaikan tersebut turut dipicu oleh peningkatan harga.
Di sisi lain, Airlangga turut melaporkan bahwa perkembangan inflasi Oktober 2026 yang tercatat sebesar 3,23% secara tahunan. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,22%, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) sebesar 2,4%.
Airlangga menilai inflasi masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia (BI), yakni 2,5% plus minus 1%.
"Kalau kita lihat inflasi ini disebabkan oleh volatile food, makanan minuman, ikan segar, kemudian juga didukung oleh inflasi di bidang transportasi, termasuk angkutan udara," jelasnya.
Mengantisipasi kenaikan biaya transportasi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), pemerintah menyiapkan program diskon yang diharapkan dapat mengkompensasi kenaikan harga tersebut.
Di samping itu, Airlangga memerinci inflasi inti atau core inflation pada Oktober tercatat sebesar 2,56%, inflasi harga yang diatur pemerintah atau administered prices sebesar 3,24%, sedangkan inflasi volatile food mencapai 5,81%.
"Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," pungkasnya.
(prc/lav)



























