Pasar kini "semakin mengantisipasi kemungkinan eskalasi setelah Pemilu sela AS pada 3 November, yang berpotensi melemahkan pasokan dari Timur Tengah," imbuh mereka dalam laporan tertanggal 1 November.
Harga minyak acuan global, Brent, melonjak 14% pada Oktober hingga mencapai level tertinggi dalam enam bulan, meski pasokan minyak mentah dari Timur Tengah telah pulih mendekati level sebelum perang.
Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa ketegangan antara AS dan Iran akan kembali memanas setelah Pemilu sela, terutama setelah Presiden Donald Trump berulang kali mengisyaratkan kemungkinan dimulainya kembali serangan udara.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran telah memerintahkan para komandan utamanya untuk bersiap menghadapi konfrontasi baru.
Meningkatnya serangan terhadap kapal pengangkut minyak dan kerusakan infrastruktur termasuk di antara faktor-faktor yang berpotensi memicu kenaikan harga lebih lanjut, kata para analis, sambil juga menyoroti risiko dari invasi Rusia ke Ukraina.
"Mengingat waktu dan lokasi terjadinya gangguan hampir mustahil untuk diprediksi, skenario dasar kami kini mencakup estimasi gangguan pasokan global sebesar 1 juta barel per hari pada 2027."
Selain pandangan utamanya, Goldman juga menyusun kerangka skenario bullish dan bearish untuk 2027, dengan kisaran harga sekitar US$70. Hal ini menyoroti tantangan yang dihadapi para analis pasar dalam memetakan berbagai kemungkinan hasil yang bisa terjadi.
Dalam skenario bullish bank tersebut, harga minyak Brent bisa mencapai rata-rata US$130 tahun depan jika produksi di kawasan Teluk Persia tetap 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata tahun lalu.
Sebaliknya, dalam skenario bearish—yang ditandai dengan pemulihan produksi regional yang lebih cepat—harga minyak berjangka "bisa turun ke kisaran US$60-an," ungkap para analis.
Dalam beberapa pekan terakhir, Morgan Stanley menaikkan perkiraan harga Dated Brent—acuan harga fisik utama—menjadi US$105 per barel untuk kuartal keempat.
Sementara itu, ANZ Group Holdings Ltd turut menaikkan proyeksi akhir tahun untuk harga minyak Brent berjangka ke angka yang sama. Pada perdagangan Senin, kontrak minyak yang paling aktif diperdagangkan sempat turun ke bawah level US$110.
(bbn)




























