Dari sisi pengeluaran, rata-rata wisman menghabiskan US$1.374,48 atau sekitar US$1.374 per kunjungan pada triwulan III 2026. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Rata-rata lama tinggal wisman juga meningkat menjadi 11,01 malam.
Pengeluaran terbesar wisman dialokasikan untuk akomodasi sebesar US$497,12. Berikutnya, pengeluaran untuk makanan dan minuman mencapai US$271,33, serta belanja dan cenderamata sebesar US$148,93. Ateng menilai besarnya pengeluaran untuk makanan dan minuman membuka peluang usaha bagi masyarakat.
"Ini potensi bagi anak-anak muda untuk membuka usaha makanan dan minuman, karena ini adalah pengeluaran Wisman terbesar kedua," kata Ateng.
BPS juga mencatat 79% wisatawan mancanegara datang ke Indonesia dengan tujuan utama berlibur. Sementara itu, dari sisi akomodasi, sebanyak 60,95% wisman memilih hotel berbintang sebagai tempat menginap selama berada di Indonesia.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 938,84 juta perjalanan selama Januari-September 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2019.
Ateng mengatakan jumlah perjalanan wisnus pada September 2026 mencapai 96,69 juta perjalanan. Angka ini turun 7,30% dibandingkan Agustus 2026, tetapi masih tumbuh 2,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Secara kumulatif sepanjang Januari sampai dengan September tahun 2026, jumlah perjalanan Wisnus mencapai 938,84 juta perjalanan atau meningkat 4,10% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025," ujar Ateng.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nasional (wisnas) atau warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri justru mengalami penurunan. Pada September 2026, jumlah perjalanan wisnas tercatat 600,61 ribu perjalanan atau turun 6,69% secara bulanan dan 13,69% secara tahunan.
Secara kumulatif Januari-September 2026, perjalanan wisnas mencapai 6,51 juta atau turun 4,60% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ateng menjelaskan penurunan perjalanan ke luar negeri tersebut sejalan dengan kenaikan harga tiket penerbangan internasional termasuk penerbangan dari Aceh ke Malaysia.
"Contohnya di sini penerbangan dari Aceh ke Malaysia yang mengalami peningkatan harga. Serta ada juga fenomena kabut asap yang terjadi di antaranya pada bulan September, yang tentunya ini mempengaruhi penerbangan di tingkat internasional,"tandasnya.
(dec/spt)




























