Di saat bersamaan, aksi jual masih berlanjut di pasar surat utang dan mengerek yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik jadi 7,55%, tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Meski begitu, menurut Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, selisih imbal hasil (spread) antara obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dan US Treasury tenor 10 tahun masih cukup lebar, yakni 248 basis poin. "Kondisi ini dinilai masih menarik bagi investor asing," sebut Juniman dalam catatannya.
Akan tetapi, daya tarik itu belum otomatis membuat investor melarikan asetnya ke pasar domestik. Sebab, pelaku pasar akan tetap memperhitungkan risiko depresiasi rupiah, pergerakan yield obligasi di tengah ketidakpastian soal klasifikasi pasar saham.
Di luar faktor pasar, pemberat sentimen lainnya bagi gerak rupiah hari ini juga datang rencana aksi demonstrasi dari sejumlah elemen masyarakat. Dinamika sosial-politik ini berpotensi menambah risiko domestik yang diperhitungkan investor.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku pasar juga tengah menantikan keputusan suku bunga bank sentral AS yang akan diumumkan Rabu (28/10) waktu setempat, atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Arah kebijakan suku bunga AS akan menjadi salah satu penentu arah rupiah dan arus modal asing, terutama saat kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik masih tertekan.
Dengan sentimen domestik dan eksternal yang saling berkelindan itu, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp18.150-Rp18.250/US$ di pasar spot hari ini.
Analisa Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi lanjut melemah, usai menembus support potensial trendline channel-nya, dengan target pelemahan menuju level Rp18.178/US$ yang merupakan support pertama, sekaligus level All Time Low/ ATL -nya, dengan target pelemahan kedua harus tertahan di level Rp18.200/US$
Jika nantinya nilai tukar rupiah lanjut melemah dengan volume yang besar, maka masih ada potensi untuk melemah (lagi) hingga mencapai Rp18.300/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi resistance psikologis potensial pada level Rp18.100/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan untuk kembali menembus Rp18.050/US$.
(riset)




























