Logo Bloomberg Technoz

Arah Rupiah Dibayangi Keputusan The Fed dan Gejolak Domestik

Tim Riset Bloomberg Technoz
28 October 2026 08:00

Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah diperkirakan masih akan tertekan hari ini (28/10/2026) di tengah penantian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang akan diumumkan besok dini hari waktu Indonesia. 

Meskipun harga minyak Brent sedikit terpangkas 1,67% ke posisi US$113,88/barel pagi ini, namun yield US Treasury kembali naik 0,8 basis poin (bps) ke 4,99% untuk tenor 10 tahun. Sejalan dengan itu, indeks dolar AS juga masih stabil di 102,37. 

Kombinasi itu membawa rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpental ke level Rp18.207/US$ pada 07.48 WIB. Sedangkan, pergerakan mata uang Asia masih beragam dengan penguatan dan pelemahan yang relatif terbatas. Yen Jepang menguat hanya 0,06%, diikuti ringgit Malaysia 0,01%. Sebaliknya, won Korea Selatan terkoreksi tipis 0,05% setelah menguat kemarin, disusul dolar Singapura 0,01%. 

Mata uang Asia pada Rabu (28/10/2026). (Bloomberg)

Penguatan di sebagian mata uang Asia belum sepenuhnya bisa merembet ke pasar domestik. Sebab, titik episentrum gejolak pasar keuangan Indonesia berasal di sekitar sisi domestik. Sentimen berubah cepat setelah MSCI mengajukan konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia ke Standalone Market. 

Kemarin (27/10), hasil lelang surat utang juga mendingin dan pemerintah mengantongi pinjaman hanya Rp20,65 triliun, di bawah target indikatifnya Rp30 triliun. Nilai dana yang dihimpun turun lantaran penawaran yang masuk ikut merosot 52,05%. Jadi Rp31,09 triliun, dari lelang surat utang sebelumnya (13/10) yang sempat sentuh Rp64,86 triliun.