Menakar Taji BI Menahan Volatilitas Rupiah
Tim Riset Bloomberg Technoz
27 October 2026 12:55

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelemahan rupiah kian tajam setelah Bank Indonesia (BI) memilih menahan suku bunga acuan, alih-alih melakukan pengetatan moneter lebih lanjut. Langkah ini ditempuh BI di tengah tuntutan untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif, terlebih di saat laju penyaluran kredit September masih tumbuh tapi melambat.
Melansir data realtime Bloomberg, siang ini rupiah bertahan di kisaran Rp18.135/US$, mendekati posisi all time low-nya di awal Juni 2026 yang sempat bertengger di Rp18.178/US$. Pelemahan rupiah ini terjadi di saat Indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkerek ke 102,04, dan aksi jual terjadi di pasar surat utang.
Di tengah pelemahan rupiah yang kian persisten ini, rasanya penting mempertanyakan sikap BI yang memilih mempertahan BI Rate pada pertemuan dewan gubernur terakhir.
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Oktober, BI lebih memilih kebijakan non-suku bunga dengan memperbesar pengurangi premi lindung nilai Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) menjadi 40% untuk tenor 6 bulan, dan 45% untuk tenor 12 bulan. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan biaya perlindungan risiko kurs bagi pelaku pasar sekaligus mendorong investor asing mempertahankan investasinya di aset domestik.
Namun, efektivitas insentif tersebut belum sepenuhnya bisa menahan gejolak rupiah yang terjadi belakangan ini. Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede, insentif lindung nilai hanya mengurangi salah satu komponen biaya investasi, bukan menghilangkan risiko fundamental maupun ketidakpastian yang memengaruhi keputusan investor.































