Logo Bloomberg Technoz

Berikutnya ada Low Tuck Kwong yang hartanya 'tersisa' Rp186,99 triliun. 'Hangus' Rp3,63 triliun dalam satu hari, menyeret penurunan Rp212,41 triliun terhadap nilai kekayaannya sepanjang tahun.

Konglomerat dari sektor perbankan juga merasakan tekanan berat, seperti Budi Hartono. Kekayaan Budi Hartono menjadi 'tinggal' Rp214,32 triliun, menyusut Rp5,44 triliun dalam sehari dan Rp134,4 triliun menguap di 2026.

Sedangkan kekayaan Anthoni Salim susut Rp67,2 triliun sepanjang 2026 ke posisi Rp223,4 triliun.

Ancaman MSCI Jadi Sebab

Faktor yang menggerus harta orang-orang terkaya di Tanah Air adalah peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kemungkinan downgrade terhadap pasar saham Indonesia pada Januari silam, yang memicu aksi jual saham secara signifikan. Sejak saat itu, lima taipan atau anggota keluarga mereka mengalami penurunan kekayaan gabungan mencapai US$71,6 miliar per Oktober. Seluruh kenaikan kekayaan yang mereka peroleh dalam empat tahun telah terhapus. 

MSCI memperingatkan status Indonesia sebagai Emerging Market berada dalam ancaman, meningkatkan kemungkinan saham-saham Indonesia dikeluarkan dari indeks global dan memicu kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing. Bahkan bulan ini ada peringatan yang lebih keras, di mana pasar Indonesia sedang dalam proses konsultasi menjadi Standalone Market, yang sejajar dengan Zimbabwe, Palestina, hingga Ukraina.

Prajogo Pangestu Paling Merugi

Prajogo Pangestu, pendiri perusahaan petrokimia Barito Pacific, harus menelan pil pahit dengan harta kekayaannya yang menguap paling signifikan. Kekayaannya telah menyusut nyaris 70% sejak Januari, ketika MSCI pertama kali memperingatkan kemungkinan downgrade. 

Bloomberg menyematkan posisi Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya kedua di Indonesia, dengan kekayaan US$14,7 miliar.

Laporan Bloomberg News menyebut, juru bicara Barito Pacific menghormati keputusan regulator Indonesia, tetapi tidak memberikan komentar mengenai perubahan kekayaan Prajogo. Perwakilan family office Prajogo tidak menanggapi permintaan komentar.

Episode MSCI menjadi peringatan bagi pasar saham Indonesia, di mana minimnya saham beredar dan free float yang terbatas lebih dominan dalam menentukan valuasi perusahaan dibanding fundamental bisnis, kata Jason Gozali, Kepala Riset Pluang. Menurutnya, upaya regulator untuk mengeluarkan perusahaan dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi dari indeks acuan akan membuka jalan bagi saham-saham blue chip untuk lebih mencerminkan fundamentalnya.

“Situasi MSCI merupakan gambaran mengenai struktur pasar, bukan gambaran mengenai perekonomian Indonesia,” kata Gozali, dikutip dari Bloomberg News.

(fad/aji)

No more pages