Logo Bloomberg Technoz

Tekanan Domestik Menahan Rupiah, Dibuka Stagnan di Rp18.050/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
23 October 2026 09:12

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Jumat (23/10/2026) dengan stagnasi di posisi penutupan kemarin, Rp18.050/US$. Tak lama berselang, rupiah melemah 0,1% ke Rp18.068/US$ pada 09.09 WIB.

Pemicunya, kenaikan minyak mentah Brent ke US$112/barel. Selain itu, rupiah juga masih terbebani sentimen MSCI ditambah langkah hawkish hold yang ditempuh Bank Indonesia (BI) dengan menahan suku bunga acuan, BI Rate, di Oktober di level 5,75%. 

Di pasar luar negeri, agaknya intervensi Bank Indonesia (BI) masih berlangsung dengan rupiah dipertahankan di kisaran Rp18.100/US$, terlihat dari penguatan terbatas 0,09% di level Rp18.102/US$, usai anjlok ke Rp18.139/US$ tadi malam. 


Dari sisi eksternal, indeks dolar Amerika Serikat (AS) cenderung landai di 101,56 seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan memberi ruang pada sebagian pasar keuangan Asia. Bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), diperkirakan menahan suku bunga di 3,75%-4%, dengan probabilitas 92,8%. 

Proyeksi itu juga telah memangkas yield US Treasury sebanyak 15,1 basis poin (bps) ke 4,96%, diikuti sebagian besar obligasi pemerintah di negara-negara lainnya. Obligasi pemerintah Jepang terpangkas 10,5 bps jadi 2,74%, diikuti Australia, 8,8 bps jadi 5,16%, Selandia Baru 8,4 bps jadi 4,88%.