Logo Bloomberg Technoz

Begitu juga dengan obligasi negara-negara di Asia yang cenderung stabil. Yield obligasi China stabil di 1,62%, diikuti Korea Selatan 4,13%, dan Taiwan dan Thailand masing-masing 1,96% dan 2,22%. 

Sementara itu, pasar obligasi Indonesia memangkas yield di tenor 10 tahun jadi 7,38%, bersamaan dengan yield INDON (obligasi berdenominasi dolar AS) menjadi 6,15%, turun 4,8 bps. 

Rupiah melemah bersama yen Jepang, dolar Hong Kong kala sebagian mata uang menguat. (Bloomberg)

Pergerakan di pasar obligasi Asia turut memperkuat posisi mata uang Asia, pada sebagian negara. Won Korea Selatan menguat 0,28% diikuti peso Filipina 0,15%, yuan China 0,02%, dan ringgit Malaysia 0,01%. Namun, dolar Hong Kong melemah 0,05% bersama yen Jepang 0,02%, dan dolar Singapura 0,02%. 

Rupiah diperkirakan masih akan tertekan di tengah sentimen eksternal yang masih kuat. Serangan terhadap Arab Saudi baru-baru ini menambah risiko bagi sisi eksternal Indonesia lantaran memicu kenaikan harga minyak. 

Pelaku pasar akan mencermati arah inflasi Oktober yang akan diumumkan bulan depan. Jika inflasi terungkit naik, sementara harga minyak masih tinggi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan terus berlanjut, dan BI diproyeksi akan mengambil langkah pengetatan lebih lanjut. 

(dsp)

No more pages