Di Luar Negeri, Rupiah Sudah di Atas Rp18.100/US$
Tim Riset Bloomberg Technoz
23 October 2026 08:09

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar spot diprediksi melemah pada Jumat (23/10/2026), seiring tekanan terhadap mata uang Garuda. Rupiah Non-Deliverable Forewards (NDF) sempat tersungkur tadi malam ke Rp18.139/US$ pukul 23.00 WIB, terendah sejak akhir Juli. Pagi ini, rupiah offshore berhasil menguat terbatas 0,07% ke Rp18.105/US$.
Tekanan eksternal masih jadi beban rupiah. Harga minyak Brent menyentuh US$112,96/barel, bahkan kemarin sempat ditutup di level US$113/barel setelah serangan ke Arab Saudi meningkat.
Meski harga minyak naik, sebagian mata uang Asia justru terpantau menguat, lantaran ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang memudar. Yen Jepang menguat bersama won Korea Selatan. Sementara, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan yuan offshore menguat lebih terbatas.
Pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober. Fedwatch memperkirakan probabilitas The Fed menahan suku bunga acuan di level saat ini semakin tinggi, yakni 92,8%.
The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, tetapi memberikan nada hawkish (hawkish hold) pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 27-28 Oktober. Data-data ekonomi AS mendukung langkah itu. Seperti inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) yang direvisi turun lebih dalam dari perkirakaan, dan pertumbuhan tenaga kerja yang lemah.






























