Depresiasi rupiah membuat dari Indonesia perlu menambah pundi-pundi anggarannya untuk sekadar jajan di Singapura. Sebagai catatan, kurs SGD/IDR saat ini dibanderol Rp14.066. Padahal dua tahun lalu 'hanya' Rp11.782/SGD.
Setali tiga uang, pelancong asal Indonesia juga sepertinya perlu merogoh kocek lebih dalam untuk berkunjung ke Malaysia. Sebab, nilai tukarnya saat ini menjadi Rp4.406/MYR, jauh lebih tinggi dari posisi November 2024 yaitu Rp3.536/MYR.
Lebih lanjut, baht Thailand menguat 15,44%, dolar Hong Kong 14,97%, yen Jepang 10,68%. Bahkan peso Filipina dan rupee India rupiah juga tercatat apresiasi melawan rupiah, masing-masing 5,94% dan 2,8%.
Sehingga bisa dikatakan, rupiah sepanjang dua tahun ini tak cuma melemah terhadap dolar AS tapi juga mata uang negara lainnya. Termasuk dengan mata uang milik negara mitra dagang seperti China, Jepang, India, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Dampak Pelemahan Rupiah
Meskipun transaksi perdagangan internasional umumnya masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara, pelemahan rupiah terhadap mata uang negara mitra dagang juga tetap punya dampak ekonomi. Ketika rupiah kehilangan nilai terhadap yuan China, yen Jepang, rupee India, won Korea Selatan, dolar Singapura, ringgit Malaysia, maupun baht Thailand, biaya transaksi yang berkaitan dengan negara-negara tersebut berpotensi meningkat dalam denominasi rupiah.
Memang, kontrak perdagangan menggunakan dolar AS sehingga biaya dalam rupiah lebih banyak terpengaruh oleh kurs USD/IDR. Namun, perubahan nilai mata uang negara asal barang juga berpotensi memengaruhi harga yang ditawarkan eksportir.
Sementara pelancong asal Indonesia biasanya yang lebih terdampak dari pelemahan nilai tukar ini. Sebab, saat mereka berpergian ke luar negeri harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk mengantongi nilai mata uang negara tujuan dengan jumlah yang sama.
Sehingga ketika rupiah melemah terhadap mata uang negara tujuan, anggaran perjalanan yang sebelumnya mungkin cukup untuk mengongkosi tiket transportasi lokal di negara tujuan, akomodasi, makan, hingga belanja jadi lebih terbatas.
Mau tak mau, pelancong Indonesia yang berlibur ke Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, maupun Thailand, misalnya, perlu menghitung ulang nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara tujuannya.
(riset)



























