Sedangkan, selisih yield antara surat utang berdenominasi rupiah mencapai 190 bps, dan bergerak menuju kisaran 7,1%-7,2%.
"Menurut kami kenaikan ini membuka momentum trading beli untuk tenor 5 tahun di rentang 7,1%-7,2%," sebut Lionel dalam catatannya.
Pergerakan yield surat utang AS US Treasury tenor 10 tahun yang terus naik mengindikasikan adanya sinyal pengetatan kebijakan moneter AS yang lebih ketat dengan durasi lebih lama.
Kenaikan ini menyengat hampir semua pasar obligasi negara-negara maju. Begitu juga dengan yield obligasi pemerintah Jepang naik 3,4 bps ke 3,09%, obligasi pemerintah Inggirs naik 3,5 bps ke 5,38%, dan Jerman naik 4,5 bps 3,59%. Sementara, obligasi Korea Selatan dan China relatif stabil dengan yield di 4,36% dan 1,66%.
"Kami menilai ekspektasi ini didorong oleh spekulasi dan rasa takut dibandingkan dengan perkembangan data inflasi dan tenaga yang rasional," kata Lionel.
Dai sisi data ekonomi, klaim awal tunjangan pengangguran AS turun 1.000 menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September. Level tersebut tetap rendah secara historis dan menunjukkan bahwa pemutusan hubungan kerja masih relatif terbatas di AS.
Pergerakan di pasar surat utang hari ini menggambarkan adanya ekspektasi kebijakan moneter ketat, dan risiko inflasi dari harga minyak, serta meningginya term premium di pasar obligasi.
Sejatinya, data tenaga kerja yang masih bisa dikatakan solid memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan sikap hawkish, tapi belum tentu mengonfirmasi adanya siklus kenaikan suku bunga yang sangat agresif.
(dsp)



























