AMMN menargetkan keputusan investasi final atau final investment decision (FID) proyek tersebut pada 2027, sementara produksi bijih pertama ditargetkan mulai 2031–2032.
Tambang Elang nantinya akan memanfaatkan fasilitas terintegrasi Batu Hijau yang diperluas, termasuk fasilitas konsentrator, smelter, infrastruktur pembangkit listrik, serta Pelabuhan Benete.
Untuk mendukung pengangkutan bijih Elang, perseroan juga akan menggunakan overland conveyor (OLC) baru.
"Perencanaan tambang Elang saat ini sedang berlangsung, dengan laporan JORC telah diselesaikan pada Q3 2026 dan final investment decision ditargetkan pada tahun 2027," tulis AMMN.
Tambang Batu Hijau
Di sisi lain, cadangan bijih tambang Batu Hijau tercatat mencapai 777 juta ton, dengan kadar tembaga 0,34% dan emas 0,24 gram per ton.
AMMN menyatakan cadangan bijih Batu Hijau tersebut meningkat 10,2%, meski tambang telah berproduksi selama 18 bulan. Peningkatan juga terjadi pada kandungan tembaga yang naik 2,6%, sedangkan kandungan emas turun 6,7%.
Dengan cadangan tersebut, Batu Hijau memiliki kandungan tembaga sebesar 5,75 miliar pon dan emas sebesar 5,9 juta ons.
Sementara itu, sumber daya mineral Batu Hijau mencapai 2,61 miliar ton, dengan kadar tembaga 0,27% dan emas 0,15 gram per ton. Sumber daya tersebut mengandung 15,52 miliar pon tembaga dan 12,40 juta ons emas.
AMMN juga menyebut umur tambang Batu Hijau dapat diperpanjang hingga 2031–2032, sedangkan pengolahan stockpile diperkirakan berlangsung hingga 2033–2034.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, AMMN mengumumkan produksi konsentrat emas pada tahun ini ditargetkan naik 3% dari 579.000 ons menjadi 775.000 ons, dipengaruhi meningkatnya kadar bijih yang ditambang.
Sekadar informasi, AMMN mengumumkan produksi konsentrat tembaga sepanjang semester I-2026 mencapai 211 juta pon atau sekitar 95.707 ton, naik 136% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 89 juta pon atau sekitar 40.370 ton.
Sementara produksi konsentrat emas, sepanjang semester I-2026 mencapai 346.354 ons atau naik 481% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 49.578 ons.
Sedangkan produksi katoda tembaga pada semester I-2026 mencapai 48.756 ton, naik 146% dibandingkan semester I-2025 sebesar 19.805 ton. Lalu, produksi emas murni pada semester I-2026 dilaporkan sebesar 122.131 ons.
Kenaikan produksi konsentrat tembaga dan konsentrat emas sejalan dengan meningkatnya produksi konsentrat yang mencapai 347.307 metrik ton kering, naik sekitar 81% dibandingkan semester I-2025 sebesar 191.657 metrik ton kering.
Penjualan
Di sisi penjualan, AMMN melaporkan penjualan konsentrat tembaga sepanjang semester I-2026 mencapai 72 juta ton dengan harga jual bruto sekitar US$6,8 per pon.
Penjualan konsentrat emas sepanjang semester I-2026 mencapai 120.667 ons, dengan harga jual bruto US$4.864 per ons.
Dari sisi peleburan dan pemurnian, penjualan katoda tembaga sepanjang semester I-2026 mencapai 48.654 ton atau naik 163% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 18.522 ton.
Penjualan emas murni pada semester I-2026 mencapai 65.544 ons dengan harga jual bersih US$4.746 per ons.
Berdasarkan produknya, penjualan domestik AMMN berasal dari katoda tembaga sebesar US$430,71 juta dan emas murni US$311,06 juta.
Sementara penjualan ekspor mencapai US$1,31 miliar, yang terdiri dari penjualan konsentrat tembaga, emas, serta katoda tembaga.
Sepanjang semester I-2026 perseroan mengekspor 120.079 metrik ton kering konsentrat tembaga yang mengandung sekitar 72 juta pon tembaga dan 120.667 ons emas.
Pada saat yang sama, perseroan juga meningkatkan kapasitas produksi smelter sehingga pada Juli–Agustus 2026 tingkat input konsentrat di smelter perseroan mencapai kapasitas desain.
Dengan kinerja produksi dan penjualan tersebut, AMMN mencatat laba bersih US$497,93 juta atau Rp8,89 triliun (asumsi kurs Rp17.857 per dolar AS) pada semester I-2026.
(azr/ros)




























