Kendala ini makin nyata mengingat proyek hilirisasi batu bara menjadi DME di Indonesia sendiri saja hingga saat ini belum berjalan secara optimal.
"Proyek DME saja belum berjalan dengan baik, apalagi CTL yang tantangan investasi dan keekonomiannya jauh lebih besar. Namun, sebagai sebuah program dan rencana jangka panjang, langkah ini tetap bernilai positif," ujarnya.
Perbandingan CTL dan DME
Bisman menjelaskan, dalam proses CTL, batu bara harus melalui tahap gasifikasi sintesis atau synthetic gas (syngas) atau pencairan langsung, lalu diproses melalui reaksi fischer-tropsch (FT) yang membutuhkan kondisi operasi ekstrem.
Sebaliknya, konversi batu bara menjadi DME memiliki alur reaksi yang lebih pendek dan langsung, yaitu cukup mengubah syngas menjadi metanol sebelum diproses melalui dehidrasi menjadi DME, atau bahkan dapat dilakukan dalam satu tahap reaksi terintegrasi.
“Kompleksitas CTL ini berdampak langsung pada skala investasi dan efisiensi energi secara keseluruhan. Pembangunan fasilitas CTL membutuhkan modal kapital yang sangat besar, konsumsi air yang jauh lebih tinggi, serta kontrol terhadap parameter suhu dan tekanan,” jelasnya.
Sementara itu, teknologi coal-to-DME menawarkan integrasi termal yang lebih efisien dengan tingkat jejak karbon proses yang relatif lebih terkendali, menjadikannya pilihan pemrosesan batu bara tingkat lanjut yang lebih efisien dari segi teknis maupun operasional.
Adapun, sebagai perbandingan dalam proses batu bara ke DME, membutuhkan sekitar 2,5 hingga 3 ton batu bara untuk menghasilkan 1 ton DME.
Sementara itu, CTL membutuhkan sekitar 4 hingga 5 ton batu bara untuk menghasilkan 1 ton produk minyak cair atau sekitar 4—5 barrel liquid fuel per ton batu bara pada efisiensi tinggi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkap rencana pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku untuk memproduksi bensin.
Rencana tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengatakan pengembangan bahan bakar dari sumber daya alam domestik merupakan bagian dari upaya pemerintah mewujudkan swasembada energi.
“Kita juga nanti akan membuat bensin dari batu bara,” ujar Prabowo dalam sambutannya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Prabowo memaparkan perkembangan produksi bahan bakar berbasis kelapa sawit atau biodiesel yang sudah berjalan hingga campuran 50% atau B50.
Prabowo menyebut Indonesia tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli 2026. Menurut dia, capaian tersebut tidak terlepas dari pengembangan bahan bakar berbasis kelapa sawit.
“Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil membuat solar dari kelapa sawit. Dan sudah bisa membuat bensin dari kelapa sawit,” katanya.
Adapun, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) sebelumnya telah menargetkan pengerjaan konstruksi fisik (groundbreaking) dua proyek hilirisasi batu bara, mereka yaitu DME dan synthetic natural gas (SNG), dapat terlaksana pada 2027.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menjelaskan kedua proyek hilirisasi tersebut telah masuk ke dalam daftar proyek strategis nasional (PSN).
“Kedua proyek ini masuk dalam PSN dan sedang diorkestrasi oleh Danantara untuk melakukan joint FS [feasibility study] dari hulu ke hilir. Insyaallah dalam waktu tidak lama lagi targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi,” ujar Turino dalam Public Expose Live, Senin (7/9/2026).
Turino menambahkan bahwa skema kerja sama dan pembiayaan proyek tersebut melibatkan sinergi antarsektor badan usaha milik negara (BUMN).
Dalam struktur proyek ini, Pertamina Group akan bertindak sebagai pembeli siaga (standby offtaker). Secara spesifik, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) akan menyerap produk DME, sedangkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN akan menampung hasil produksi SNG.
“Coal to SNG juga sedang dibahas oleh Danantara. Jadi, keduanya ada dalam orkestrasi dan karena terkait dengan permodalan dan juga offtaker-nya juga antara BUMN,” ungkap Turino.
“Dua-duanya partner kita, offtaker-nya adalah Pertamina Group, jadi yang DME offtaker-nya adalah Patra Niaga, sedangkan yang SNG offtaker-nya adalah PGN,” tambahnya.
(wdh)



























