Logo Bloomberg Technoz

BMKS di Bawah OJK Dinilai Tak Otomatis Bikin RI Jadi Price Maker

Sabrina Mulia Rhamadanty
22 September 2026 08:10

Harga-harga pada papan digital di lantai perdagangan area *open outcry* di London Metal Exchange Ltd. (LME) di London, Inggris./Bloomberg-Tom Skipp
Harga-harga pada papan digital di lantai perdagangan area *open outcry* di London Metal Exchange Ltd. (LME) di London, Inggris./Bloomberg-Tom Skipp

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai tidak serta-merta bisa menjadikan Indonesia sebagai penentu harga acuan (price maker) komoditas mineral dunia.

Founder Tranderindo sekaligus analis komoditas Wahyu Laksono menyampaikan integritas regulasi harus diimbangi dengan likuiditas pasar agar pembentukan harga acuan (price discovery) dapat terwujud secara optimal.

Meskipun Indonesia menguasai porsi produksi mineral seperti nikel dan batu bara di pasar global, Wahyu mengingatkan bahwa acuan harga selama ini masih bergantung pada standar harga global, misalnya London Metal Exchange (LME) dan NEWC Index (Newcastle).


“Iya meskipun batu bara bisa melalui Indonesia Coal Index [ICI], tetapi pencapaian price discovery sangat bergantung pada likuiditas pasar, bukan sekadar pergantian lembaga pengawas,” ungkap Wahyu saat dihubungi, Selasa (22/9/2026). 

Suasana perdagangan di London Metal Exchange (LME)./Bloomberg-Jason Alden

Langkah OJK mendekatkan ekosistem BMKS—yang rencananya akan diberi nama Indonesia Commodity Exchange (Icomex) — ke standar pasar modal melalui transparansi transaksi, pengawasan berbasis risiko, dan perlindungan kustodian dipandang mampu meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata pembeli internasional.