Logo Bloomberg Technoz

BI Soal Pelemahan Rupiah: Tertekan Harga Minyak-Permintaan Valas

Redaksi
21 September 2026 15:20

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa tekanan yang terjadi pada rupiah saat ini disebabkan oleh sejumlah faktor seperti masih tingginya harga minyak dunia yang masih bertengger di atas US$100.

“Pelemahan nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).

Selain itu, Erwin juga menyebutkan bahwa pelemahan rupiah tersebut juga didorong oleh  kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik.


BI-pun melakukan sejumlah intervensi melalui  transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).