Ia juga menyebut bahwa BI akan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market,
“Serta memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif,” katanya.
Ia juga meyakinkan bahwa secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37%.
Rupiah membuka perdagangan Senin (21/9/2026) dengan pelemahan 0,29% ke Rp17.793/US$, seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan melejitnya imbal hasil US Treasury.
Pergerakan rupiah pagi ini menunjukkan sentimen positif dari turunnya harga minyak belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari dolar AS dan pasar obligasi global. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali terapresiasi ke 100,2, membuat penguatan bagi mata uang Asia juga relatif terbatas.
Apalagi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali mendekati 5% setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4%.
Sementara itu, minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar US$104 per barel setelah mengalami penurunan selama tiga hari, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah US$100 per barel.
(ell)






























