Logo Bloomberg Technoz

Risiko ke Depan

Dia khawatir ketika harga minyak mentah mengalami penurunan, premi risiko geopolitik dan biaya logistik justru bertahan lebih lama.

Terlebih, masih terdapat potensi The Fed menaikkan suku bunga menjelang akhir tahun, sehingga imbal hasil dengan AS akan makin menyempit dan tekanan terhadap rupiah bisa kembali meningkat.

Dengan demikian, Yusuf kembali menegaskan impor minyak mentah Indonesia masih dalam kondisi rawan hingga kuartal IV-2026.

“Bagi Indonesia sebagai net importer minyak, kombinasi pelemahan rupiah dan tingginya harga energi tentu langsung meningkatkan beban impor,” tegas Yusuf.

Harga Minyak Brent (Sumber: Bloomberg)

Dia menyarankan pemerintah merespons kondisi tersebut dengan mempercepat efisiensi konsumsi energi dan menata subsidi energi.

Yusuf juga tidak setuju jika pemerintah memutuskan membatasi impor secara besar-besaran, sebab kebutuhan energi dan industri tidak mengalami perubahan.

“[Hal] yang lebih penting adalah mempercepat efisiensi konsumsi energi, menjaga disiplin subsidi, serta memperkuat hedging [lindung nilai] dan strategi pengadaan agar tidak terlalu rentan terhadap volatilitas harga dan kurs,” ujar Yusuf.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama menguat hingga 100,25, menyusul kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang sudah diperkirakan pelaku pasar sebelumnya. Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulan memutuskan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4%.

“Keputusan yang kami ambil hari ini adalah keputusan yang matang, serius, dan bertanggung jawab, yang telah kami persiapkan dan pikirkan selama seratus sepuluh atau dua puluh hari saya berada di sini,” kata Ketua The Fed Kevin Warsh medio pekan lalu.

Investor kini mempertimbangkan seberapa cepat The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan ketika angka inflasi diperkirakan akan semakin meluas. Pelaku pasar uang memperkirakan sekitar 50% peluang kenaikan FFR pada Oktober.

Namun,  harga minyak Brent untuk penyelesaian November turun 1,7% menjadi US$102,08/barel pada pukul 13.16 waktu Singapura hari ini.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) WTI untuk pengiriman Oktober juga turun 1,8% menjadi US$98,50/barel.

Harga minyak masih tercatat tinggi 75% sepanjang tahun ini. Lonjakan harga minyak mentah dan bahan bakar ini telah merembet dan meningkatkan inflasi global, termasuk di Indonesia.

Meski terpangkasnya harga minyak hari ini dapat memberi sedikit ruang penguatan bagi mata uang di Asia, kuatnya dolar AS kemungkinan akan mendorong sentimen risk-off di pasar Asia, termasuk Indonesia.

Adapun, BPS mencatat nilai impor migas Indonesia sepanjang Juli 2026 membengkak US$1,25 miliar atau 49,91% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan impor migas disebabkan oleh bertambahnya impor minyak mentah senilai US$848,3 juta atau 49,11% dan hasil minyak sebesar US$406,3 juta atau 51,68%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, selama periode Januari hingga Juli 2026, nilai impor migas RI meningkat US$7,40 miliar atau 40,24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan ini dipicu oleh bertambahnya impor minyak mentah senilai US$2,08 miliar atau sebesar 41,81% dan hasil minyak senilai US$5,32 miliar atau sebesar 39,66%.

(azr/wdh)

No more pages