Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, mengatakan pergerakan pasar obligasi Indonesia baik berdenominasi rupiah dan dolar AS dibayangi oleh risiko depresiasi rupiah, lantaran terpangkasnya penguatan yen Jepang setelah langkah bank sentral Jepang menaikkan suku bunga acuab 25 bps jadi 1,25%.
"Kami memperkirakan yield obligasi tenor 10 tahun bergerak di rentang 7,1-7,2% hari ini, dan INDON di 5,9-5,95%, akibat kemungkinan BI Rate ditahan," kata Lionel dalam catatannya.
Ekonom dan analis memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di 5,75%, mengingat pergerakan rupiah relatif stabil sepanjang September. Akan tetapi, keputusan BI tidak semata-mata akan ditentukan oleh kondisi rupiah.
Kenaikan US Treasury dan sikap hawkish The Fed menjadi faktor eksternal yang akan diperhitungkan para dewan gubernur, terutama karena kenaikan imbal hasil aset AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.
Dengan BI Rate yang sudah berada di 5,75%, ruang BI untuk menurunkan suku bunga juga berhadapan dengan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI juga kemungkinan akan mencermati pergerakan harga minyak mentah yang berisiko membuat inflasi meninggi.
(dsp/aji)




























